PERINGATAN
“Jangan mau dipecah belah” atau dalam versi yang lebih panjang “Hati-hati
jangan sampai dipecah belah oleh orang-orang tak bertanggung jawab” sangat
sering kita dengar, sejak nak-kanak hingga sekarang. Peringatan itu menunjukkan
bahwa kita sudah bersatu, bahkan suka bersatu. Orang atau pihak lainlah yang
tidak suka dan menginginkan kita tercerai-berai.
Ah, tapi kesukaan
bersatu itu rasa-rasanya kok jauh utang dari pelunasan! Begitu banyak orang
bertengkar, bercerai, bahkan oleh perkara yang mestinya biasa-biasa saja: beda
haluan, beda pendapat, bahkan sekadar beda calon bupati atau gubenur pilihan.
Jangan-jangan
kita tercerai-berai bukan karena dipecah belah oleh pihak lain melainkan karena
pada dasarnya memang suka memecah belah diri sendiri. Ungkapan tetangga sebelah pun berkembang pesat menjadi
orang sebelah, pihak sebelah, calon
sebelah, tim sukses sebelah, kelompok sebelah, laman sebelah, bahkan ulama sebelah.
Hal yang serta-merta
mengingatkan pada berbagai bentukan kata belah,
yaitu dibelah, membelah, terbelah, pembelah,
dan pembelahan. Pada semua bentuk itu
“terbayang” sesuatu yang semula satu kemudian menjadi dua. Begitupun,
sebenarnya, kata sebelah yang
bermakna setengah, separuh. Ia
terbentuk dari sesuatu yang semula satu.
Ya, kata sebelah memang juga bermakna bagian yang
lain dari suatu pasangan, sisi atau samping. Dari situlah muncul ungkapan tetangga sebelah. Sepanjang hanya
menerangkan posisi atau letak, ungkapan tetangga
sebelah tentu saja obyektif, tak memuat rasa atau emosi apa pun. Akan
tetapi, dalam konteks pergaulan, ungkapan tetangga
sebelah menunjukkan keengganan menyebut nama karena sedang jothakan atau bermusuhan.
