Minggu, 08 Januari 2017

Dari Tetangga hingga Ulama Sebelah




PERINGATAN “Jangan mau dipecah belah” atau dalam versi yang lebih panjang “Hati-hati jangan sampai dipecah belah oleh orang-orang tak bertanggung jawab” sangat sering kita dengar, sejak nak-kanak hingga sekarang. Peringatan itu menunjukkan bahwa kita sudah bersatu, bahkan suka bersatu. Orang atau pihak lainlah yang tidak suka dan menginginkan kita tercerai-berai.

Ah, tapi kesukaan bersatu itu rasa-rasanya kok jauh utang dari pelunasan! Begitu banyak orang bertengkar, bercerai, bahkan oleh perkara yang mestinya biasa-biasa saja: beda haluan, beda pendapat, bahkan sekadar beda calon bupati atau gubenur pilihan.

Jangan-jangan kita tercerai-berai bukan karena dipecah belah oleh pihak lain melainkan karena pada dasarnya memang suka memecah belah diri sendiri. Ungkapan tetangga sebelah pun berkembang pesat menjadi orang sebelah, pihak sebelah, calon sebelah, tim sukses sebelah, kelompok sebelah, laman sebelah, bahkan ulama sebelah.

Hal yang serta-merta mengingatkan pada berbagai bentukan kata belah, yaitu dibelah, membelah, terbelah, pembelah, dan pembelahan. Pada semua bentuk itu “terbayang” sesuatu yang semula satu kemudian menjadi dua. Begitupun, sebenarnya, kata sebelah yang bermakna setengah, separuh. Ia terbentuk dari sesuatu yang semula satu.

Ya, kata sebelah memang juga bermakna bagian yang lain dari suatu pasangan, sisi atau samping. Dari situlah muncul ungkapan tetangga sebelah. Sepanjang hanya menerangkan posisi atau letak, ungkapan tetangga sebelah tentu saja obyektif, tak memuat rasa atau emosi apa pun. Akan tetapi, dalam konteks pergaulan, ungkapan tetangga sebelah menunjukkan keengganan menyebut nama karena sedang jothakan atau bermusuhan.

Rabu, 04 Januari 2017

Kala Bisa Mewaktu

Apa yang kita rayakan semalam?
Setiap tahun kalender berganti
dan kita tetap di sini:
memeluk sepi di keramaian
menaburkan kembang api
di langit hujan.

Mestinya, kita kemasi saja serak langkah
sebelum fajar datang lebih awal
karena lesung ditalu semu.

Kala bisa mewaktu
tak lagi soal membuat candi atau perahu

Kala bisa mewaktu
jauhlah hidup dari tipu!


Semarang, 1 Januari