Kamis, 22 Maret 2018

Kebaikan yang Terus Mengalir

SEJAK Jumat pagi, teman-teman kuliah Tia membesuk silih berganti. Sebagian di antara mereka seperti Erina, Muna, Ima, Bangsa, dan Sofi siap sedia membantu kami, menjadi seksi riwa-riwi. Bahkan Muna menjadi “operator” AC dengan remote hape karena dua kali aku lapor kepada perawat, AC tetap saja mati. Saat dia pamit balik ke kos-kosan, Tia bilang, “Hapemu tinggal kene wae!”

Setiap kali datang, tak laki tak perempuan, oleh-oleh mereka selalu sama: canda-tawa. Dan Tia, seolah tidak sedang sakit, melayani candaan dengan candaan, menyambut tawa dengan tawa. Usai digips sebadan, kurasa dia harus istirahat, “meluruskan” tulang belakang dengan tidur, misalnya. Tapi tak lama setelah balik dari poliklinik, jam besuk sore dimulai.

Yang besuk kok ya teman-teman Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga, tempat Tia “menghabiskan masa SMA”. Tak pelak, sejak datang hingga pamit pulang, mereka nyaris tak pernah berhenti haha-hihi. Karena khawatir kebanyakan tertawa, apalagi sampai terpingkal-pingkal, bakal mengganggu bagian yang cedera, aku pun mengingatkan, “Hei, hei… jangan nemen-nemen le guyon.”

Mereka kurangi memang tetapi hanya sebentar. Sedikit demi sedikit, canda dan tawa itu pecah lagi. Ya sudahlah, semoga yang terjadi justru sebaliknya, terbahak-bahak memperkuat saraf dan otot pada tulang belakang.

Pada saat seperti itu, bolehlah dibilang aku nganggur.  Dan ketika Entik bisa tidur di ranjang kamar-sebelah yang kosong, aku “bingung”. Jalan-jalan ke mana, duduk diam saja kok kelihatan gimana. Akhirnya, ya, mulailah aku kirim kabar soal Tia via WA pada sanak-saudara, pada bude dan pakde, pada om dan tante: dari barat sampai ke timur.

Teman? Tidak. Bahkan Handry TM, salah satu sahabat, sama sekali tak kukabari. Jumat dia sedang bertandang ke Rumah Budaya Tembi untuk peluncuran buku puisinya, Eventide. Sungguh aku tak ingin mengusik kegembiraan yang sedang dia nikmati bersama anak-istri. Via WA, malam itu aku menyapa:

+ Sukses untuk acara di Jogja ya, Kak…
= Aku agak tepar di akhir acara
+ Ngaso, Kak… Lekas pulih
= Tengkyu Kak. Besok pulang naik joglosemar, malam ini merasakan nginep neng Tembi, wah natural banget.
+ Penginku turut hadir tapi tak diperjalankan…

Satu-dua teman bertanya dengan nada ragu, via WA juga, setelah membaca story Tia di instagram. Kenapa ragu? Karena Tia tidak mengabarkan musibah yang menimpanya dengan nada berat. Sebaliknya, ringan-ringan saja. Saat di IGD malam itu, misalnya, dia pajang foto Biru dengan keterangan: si Ganteng ini yang akan jadi perawatku selama tiga bulan. Bahkan beberapa sahabat yang dia kasih tahu langsung menangis dan, ajaibnya, dialah yang menghibur mereka!

Dari sanak-kerabat, wabilkhusus K.H. Ahmad Mustofa Bisri atawa Gus Mus, tak ada yang kuminta selain doa, doa, dan doa untuk proses kelancaran tindakan dan kesembuhan Tia. Aku merasa, sangat merasa, lemah selemah-lemahnya di hadapan rahasia Tuhan atas peristiwa. Aku percaya, sungguh-sungguh percaya, obat dan dokter hanyalah sistem upaya yang berada jauh di bawah sistem penyembuhan-Nya.

Melalui Messenger, Yaik Mus menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Inna liLlah. Khair insyaAllah. Kami ikut mengamini doa panjenengan. Semoga ananda Mutiara Relung Sukma segera dianugerahi kesembuhan dengan sempurna. Al-Fatihah.”

Pada titik paling tidak berdaya, doa benar-benar menjadi penguat. Lahir dan batin. Tercatatlah tercatat sebagai kebaikan yang terus mengalir…. 


Jumat, 16 Maret 2018

Sibuk Menyemai Kesabaran

SEORANG perawat menyambut dan mengantar kami ke kamar 12 bangsal Ceplok Kembang, menjelang subuh, Jumat 3 Maret 2018. Entik dan Tia memilih tempat tidur dekat jendela , jadi berkesan rumah, dan di bawah AC untuk mengantisipasi badan sesudah digips nanti karena pasti sumuk.  

“Tapi ini AC-nya sentral lho, tidak bisa dikecilkan dari sini…” kata perawat itu.
“Iya, Mbak, gak papa,” sahut Tia.
“Sekarang silakan makan, seperti sahur, sampai kenyang. Nanti pukul enam berhenti, puasa.”
“Lho, hanya digips, bukan mau operasi, kok puasa?” tanyaku.
“Ya, untuk jaga-jaga, siapa tahu…”

Tia bisa tidur. Alhamdulillah. Dia terbangun ketika pagi-pagiseorang dokter muda datang, menyibak tirai, dan berujar, “Bagaimanapun Bapak-Ibuk patut bersyukur, yang kena bukan tulang sumsum, sehingga tangan dan kaki Mbak Mutiara masih bisa merespons dengan baik. Ini mau digips ya? Silakan sarapan dulu, nanti puasa mulai jam tujuh.”

“Kok puasa?” tanyaku lagi.
“Iya, Pak, untuk antisipasi. Kalau bisa digips di poli sambil berdiri, ya bagus, tidak perlu dibius. Puasa batal. Tapi kalau tak tahan nyeri di punggung, ya harus dibius dan digips di ruang operasi. “

Kami pun menunggu undangan untuk gips itu. Datang lagi dokter yang juga muda, berdua, tanya-tanya dan berkata dengan serbacepat, kemudian berlalu. Tak ada info baru.  Sekitar pukul  sepuluh, datang dokter yang semalam menjelaskan pada kami hasil ronsen di IGD itu.  

“Pak, menurut  Dokter Andi yang bertanggung jawab atas tindakan pada pasien, dengan mempertimbangkan kondisi tulang belakang yang cedera, kami sarankan operasi untuk anak Bapak, bukan body jacket atau gips. Jika bersedia, kami sudah bisa jadwalkan, operasi hari Senin,” katanya.

Senin? Lha Sabtu-Minggu ngapain? Terus terang, aku bingung. Semalam kami dapat sodoran pilihan, kemudian memutuskan, kini harus menimbang ulang.

“Kalau gips, bisa hari ini kan?”
“Ya kita lihat nanti. Karena itu, segera Bapak putuskan. Kalau lambat, ya harus antre lagi, jadwal ulang. Gitu nggih?” katanya, kemudian berbalik meninggalkan kami.

Kutatap Tia. “Piye, Nduk?”
Dia angkat bahu. Entik juga nampak bimbang: sudah memilih gips tapi kok dokter lebih menyarankan operasi.

*****

AKU beranjak menuju tempat para perawat. Pada salah seorang yang tampak senior di antara mereka, aku bertanya soal biaya sebab saat di IGD, info biaya operasi yang kami terima untuk kelas tiga.

“Tentu saja lebih mahal, Pak. Pakai BPJS atau umum?”
“Umum….”
“Waduh, bukan dana yang sedikit ini, Pak.”
“Sebenarnya kami sudah memilih gips tapi tadi dokter menyarankan operasi…”

Dia tersenyum ramah dan mengatakan, “Gini aja, Pak. Nanti Bapak bilang pada dokter, sementara pilih gips karena terbentur biaya. Besok atau lusa Bapak urus BPJS, kalau sudah dapat, naaa… mungkin saja ambil tindakan lain.”

Meski tak sependapat, aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih, lalu kembali ke kamar. Beberapa saat ngobrol dengan Tia dan Entik, datang lagi dokter, perempuan, dan menyatakan bahwa kami harus bersyukur karena meski yang cedera tulang belakang, secara umum Tia baik-baik saja. Cara bicara dokter yang satu ini jelas dan tegas, tanpa kehilangan kesan ramah.

“Ibuk, Bapak, Mbak…. Ayo tanya apa, mumpung saya masih di sini. Jangan sungkan atau ragu, tanya sebanyak-banyaknya, panjenengan punya hak untuk menerima informasi selengkap mungkin.”

Maka bertanyalah kami soal “masih amankah jika tetap pilih gips”. Dia minta perawat mengambil hasil ronsen. Dia mengamati dan menjelaskan, termasuk kenapa dokter menyarankan operasi. “Meskipun demikian, gips masih aman asal Mbak Mutiara benar-benar mau istirahat sekaligus repot dengan gips di badan selama perawatan, sekitar tiga bulan.”

Mantap sudah. Segera kusampaikan keputusan kami pada perawat untuk dia lanjutkan ke dokter. Lalu, ya kembali menunggu.

“Mestinya hari ini. Kalau nggak, mundur Senin, repot. Sabtu-Minggu kita plonga-plongo di sini.”
“Nunggu dokter yang sedang  weekend…” sambung Tia sambil tertawa.

*****

AGAK lama selepas jumatan, barulah dokter yang menyampaikan saran operasi datang dan mengatakan, “Menurut Dokter Andi, kalau memang tetap gips, tidak hanya sepinggang tapi sampai paha kanan sebagai penyangga, karena ruas yang cedera terletak agak bawah. Itu berarti setelah digips nanti, pasien tak bisa duduk. Kalau iya, kita laksanakan sekarang di poli.”

Aku menoleh ke Tia, kemudian mengangguk. Puasa batal karena “tindakan” tidak di ruang operasi. Tak tahulah kami, bagaimana cara mempertimbangkan tingkat kenyerian sehingga poli menjadi pilihan. Artinya, Tia akan digips tanpa bius. “Sediakan kaos singlet, minta bantuan perawat,” kata dokter itu sebelum berlalu.

Tak lama setelah itu, dua perawat mendorong ranjang. Tia menyibukkan diri dengan hapenya, aku dan Entik menyertai di sisi kanan dan kiri. Kalau ada yang iseng merekam, pasti dapat gambar yang persis adegan dalam film-film itu!

Sesampai di pintu ruang tindakan, bapak-bapak perawat bertanya, “Singletnya mana?” Entik menyerahkan kaos yang dia beli di kantin rumah sakit. “Wah, ini tidak menyerap keringat. Beli lagi. Di minimarket seberang rumah sakit sana ada.”

Aku melongo.

Entik meminta tolong salah satu teman Tia untuk keluar dan beli singlet. Teman lain yang sedang di luar sana juga berusaha mencari kaos yang sama. Perawat itu memberikan selembar catatan (semacam resep) padaku, “Silakan ambil gips ke bagian farmasi.”

“Lho, tadi Erina ke farmasi, katanya mau ambil gips,” kata Entik.

Saat itulah Erina dan Bangsa, dua-duanya sahabat Tia, datang dengan sekotak gips. Perawat ngecek dan mengatakan, “Ini salah ukurannya, terlalu kecil, gak akan cukup nanti. Tadi siapa yang suruh?”

“Tadi dapat resep dari perawat di bangsal sana,” jawab Erina.
“Kembalikan, pakai resep yang ini saja.”

Aku melongo lagi.

Yang beli kaos datang. Setelah bungkus plastiknya dibuka baru ketahuan, bukan singlet. Salah lagi. Untunglah, datang pula Muna, sahabat lekat Tia yang lain, dengan kaos yang memenuhi syarat. Begitu “gips ralatan” tiba, masuklah Tia ke ruang tindakan. Kami semua menunggu di luar. Sekitar setengah jam kemudian, dia keluar dari ruang itu dengan gips sebadan plus paha kanan, langsung “mampir” ke ruang ronsen.

Saat kembali ke kamar, Tia nggrundel, “Aku tahu sekarang. Ternyata bius itu perlu gak cuma biar gak sakit tapi juga biar pasien gak denger obrolan dokter dan perawat…”

“Apa yang mereka obrolkan?” tanyaku.
“Untuk pasien, rak nyenengke tenan!”
“Misalnya?”
“Kok ndadak digips, dioperasi wae kan beres…”

Aku tak bertanya lagi. Sibuk menyemai kesabaran sendiri. 


Jumat, 09 Maret 2018

Jatuh Menjelang Purnama

SEKITAR pukul delapan malam, Kamis 1 Maret 2018, aku menyalakan komputer, membuka photoshop, dan menghitamputihkan foto-foto untuk buku kumpulan kunjungan kerja anggota DPD RI dari Jawa Tengah, Bambang Sadono. Belum banyak, baru beberapa….. hape berbunyi. Telepon dari Tia yang siang tadi pamit balik ke Solo. Kutatap layar hape dengan perasaan makdheg karena biasanya dia hanya berkabar via pesan jika sudah sampai tujuan.

“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam. Pak, hehehe, aku jatuh…”

“Duh, Nduk!” Sontak terbayang jalan raya Semarang-Solo yang penuh bus dan truk itu. “Jatuh di mana? Jatuhnya gimana?”

“Udah sampai Solo. Aku sama temen, mau nonton. Ada mobil berhenti mendadak, mobil di belakangnya nabrak, motor nabrak mobil yang nabrak itu.”
“Kamu yang nyetir?”
“Nggak, aku mbonceng.”
“Luka, Nduk?”
“Luka dikit… tapi tulang belakang kena.”
“MasyaAllah, Nduk!” Yang ini maklhab benar rasanya.
“Teman yang nyetir gimana?”
“Nggak papa, cuma giginya patah. Ni aku di IGD rumah sakit ortopedi, kebetulan tabrakane gak jauh dari sini. Udah dironsen. “
“Hasilnya?”
“Doktere mau ngomong sama Bapak. Nanti kalau dah siap, Bapak taktelpon lagi ya.”
“Ya…”

Aku tercentang di antara kekhawatiran soal cedera tulang belakang dan kelegaan atas kenyataan Tia masih bisa menelepon, bahkan mengabarkan sendiri musibah itu dengan awalan “hehehe”. Dan justru aku menangis karena itu!

Setelah menyampaikan kabar berikut kronologi pada Entik yang sedang melipati pakaian di tempat tidur, aku pamit ke masjid. Aku benar-benar merasa perlu waktu dan tempat khusus  untuk “sujud”.

Tak lama, si Bungsu menyusul ke masjid.

“Ada apa, Gih?”
“Kata Ibuk, Bapak suruh pulang, Mbak Tia telepon.”

Aku bergegas. Begitu kuterima telepon, Tia hanya mengatakan, “Bapak ke sini, sekarang. Doktere mau menjelaskan langsung.”

*****

TAK ada pilihan. Kusuruh pulang Biru yang sedang di rumah teman. Berempat kami ke RS Ortopedi Dr. Soeharso Surakarta, diantar oleh Mas Didin, tetangga sebelah rumah yang kok ya ndilalah kersaning Allah baru saja beli mobil. Gres!

Sepanjang perjalanan, kami tak banyak cakap. Entik pilih “tidur”, Gigih mapan di jok belakang. Biru duduk di depan, sesekali ngobrol dengan Mas Didin. Aku, selain “sibuk dengan diri sendiri”,  berkabar pada satu-dua kerabat dan sahabat. Benar-benar hanya satu atau dua. Ada perasaan sangat kuat untuk tak mengabarkan musibah ini ke banyak saudara dan teman, apalagi via status facebook, whatsApp, atau instagram.

Tiba di rumah sakit sekitar pukul setengah dua belas malam. Terang bulan menjelang purnama. Teman-teman kuliah Tia menyambut dengan salim takzim. Bersegera kami masuk, menemui Tia yang terbaring di salah satu bilik IGD. Senyumnya bercampur dengan seringai karena nyeri di punggung.

Setelah kembali mendengarkan cerita tentang tabrakan itu, lebih lengkap, termasuk dengan siapa dia berboncengan, aku dan Entik menemui dokter jaga yang segera saja memajang hasil ronsen dan menyalakan lampu hingga foto tulang-tulang putri kami menampak. Dari samping, ruas tulang yang cedera sudah dia “pertegas” dengan spidol merah. Menurut susunan:  1, 2, 3.  

“Ruas kedua inilah yang kena saat putri Bapak jatuh. Selain bentuk berubah karena tertekan, bisa Bapak lihat, juga sedikit bergeser,” katanya. Dia menjelaskan banyak hal lain hingga pada pilihan tindakan: operasi (menyusupkan pen di tulang belakang), pemasangan body jacket atau gips sebadan (dari atas dada sampai pinggang), dan korset yang bisa lepas-pasang. “Kalau melihat posisi ruas yang cedera ini, pilihan ketiga tidak kami sarankan karena berkemungkinan melakukan gerakan yang membahayakan tulang belakang,” tambahnya.

Saat kami tanyakan kelebihan dan kekurangan dua pilihan itu, dia menjelaskan bahwa operasi lebih afdol karena penjagaan ruas tulang agar tidak bergerak lebih pasti. Pemulihan lebih cepat. Sedangkan jika memakai gips sebadan tentu lebih merepotkan,  “tak bisa ngapa-ngapain” (termasuk mandi) selama tiga bulan.

“Dari segi biaya, berapa bedanya?”

“Wah, soal biaya saya tidak tahu, bukan wewenang saya. Bapak bisa tanyakan pada petugas itu,” jawabnya sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk di dekat meja pelayanan. “Bapak punya BPJS?”

Aku menggeleng. “Tidak.”

“Wah, padahal kasus begini ini bisa dikaver penuh oleh BPJS, Pak… bahkan operasi sekalipun. Sekarang silakan Bapak pertimbangkan ya.”

*****

DARI dokter, aku menemui petugas pendaftaran pasien dan meminta keterangan soal biaya untuk dua pilihan tindakan itu. Dia serta-merta menjelaskan biaya yang harus kami keluarkan di kelas tiga. Biaya operasi sepuluh kali lipat biaya pemasangan gips.

Sejak dokter menjelaskan sekaligus menyarankan, sebenarnyalah operasi tak menjadi pilihan bagiku. Bukan sekadar perkara biaya melainkan soal manalah tega.  Apalagi, alhamdulillah, Tia “baik-baik saja”. Komunikasi lancar, tak lupa bercanda dan tertawa, gerak anggota badan yang lain pun tak terganggu, tetap sebagaimana biasa.

Setelah berembuk dengan menimbang ini dan itu, kami putuskan gips saja. “Tiga bulan badan jadi lebih berat lho, Nduk...” kataku.

Dia tersenyum, “Punggung sakit begini, aku toh gak akan ke mana-mana.”

Kembali aku menemui petugas dan menyampaikan keputusan kami. “Anak saya bisa dipindah ke kamar sekarang kan?”

“Sebentar, saya tanyakan dulu…” Setelah menelepon perawat entah di mana, dia mengatakan, “Kamar kelas tiga penuh, Pak.”

Aku menoleh dan menatap Entik. Kami bersepakat dengan saling mengangguk. “Kalau kelas dua, biaya jadi berapa?” Petugas itu membuka-buka catatan, kemudian menyebut angka kenaikan. “Ya sudah, kelas dua,” putusku. Dia menelepon perawat lagi, lalu mengatakan padaku, “Kamar kelas dua ada, Pak.”

“Anak saya bisa pindah ke kamar sekarang juga?”

“Belum, Pak… ini proses administrasi dulu. Ambulans juga belum siap. Nanti subuh baru bisa dipindah ke kamar.”

Weeee… lha, padahal saat itu baru hampir pukul dua! Buru-buru kutekan kekhawatiran, kutekan ketidaksabaran. Minimal, ya, sangat minimal kulihat beberapa perawat mulai bergerak menangani Tia, termasuk memasang infus dan menyuntikkan obat pereda nyeri ke dalamnya --yang entah kenapa tidak sedari kali pertama Tia masuk IGD. Saat proses foto ronsen itu, cerita Tia kemudian, dia sangat kesakitan. “Rasanyaaaaaaa hooaaaahhh!!!”

Ya Allah Ya ‘Aziz… dalam kesakitan yang “hoaaahhh” begitu, dia meneleponku, mengabarkan musibah itu dengan awalan “hehehe”. Pada Tia, ya pada si Sulung yang pernah menjadi ketua mapala di kampus ISI Solo ini, kami wabilkhusus aku mesti belajar tentang rasa sakit dan kekuatan menahannya…