Setiap kali datang, tak laki tak perempuan, oleh-oleh mereka
selalu sama: canda-tawa. Dan Tia, seolah tidak sedang sakit, melayani candaan
dengan candaan, menyambut tawa dengan tawa. Usai digips sebadan, kurasa dia
harus istirahat, “meluruskan” tulang belakang dengan tidur, misalnya. Tapi tak
lama setelah balik dari poliklinik, jam besuk sore dimulai.
Yang besuk kok ya teman-teman Komunitas Belajar Qaryah
Thayyibah Salatiga, tempat Tia “menghabiskan masa SMA”. Tak pelak, sejak datang
hingga pamit pulang, mereka nyaris tak pernah berhenti haha-hihi. Karena
khawatir kebanyakan tertawa, apalagi sampai terpingkal-pingkal, bakal
mengganggu bagian yang cedera, aku pun mengingatkan, “Hei, hei… jangan nemen-nemen le guyon.”
Mereka kurangi memang tetapi hanya sebentar. Sedikit demi
sedikit, canda dan tawa itu pecah lagi. Ya sudahlah, semoga yang terjadi justru
sebaliknya, terbahak-bahak memperkuat saraf dan otot pada tulang belakang.
Pada saat seperti itu, bolehlah dibilang aku nganggur. Dan ketika Entik bisa tidur di ranjang kamar-sebelah
yang kosong, aku “bingung”. Jalan-jalan ke mana, duduk diam saja kok kelihatan
gimana. Akhirnya, ya, mulailah aku kirim kabar soal Tia via WA pada
sanak-saudara, pada bude dan pakde, pada om dan tante: dari barat sampai ke
timur.
Teman? Tidak. Bahkan Handry TM, salah satu sahabat, sama
sekali tak kukabari. Jumat dia sedang bertandang ke Rumah Budaya Tembi untuk peluncuran
buku puisinya, Eventide. Sungguh aku
tak ingin mengusik kegembiraan yang sedang dia nikmati bersama anak-istri. Via
WA, malam itu aku menyapa:
+ Sukses untuk acara di Jogja ya, Kak…
= Aku agak tepar di akhir acara
+ Ngaso, Kak… Lekas pulih
= Tengkyu Kak. Besok pulang naik joglosemar, malam ini merasakan
nginep neng Tembi, wah natural banget.
+ Penginku turut hadir tapi tak diperjalankan…
Satu-dua teman bertanya dengan nada ragu, via WA juga, setelah
membaca story Tia di instagram.
Kenapa ragu? Karena Tia tidak mengabarkan musibah yang menimpanya dengan nada berat.
Sebaliknya, ringan-ringan saja. Saat di IGD malam itu, misalnya, dia pajang
foto Biru dengan keterangan: si Ganteng ini yang akan jadi perawatku selama tiga
bulan. Bahkan beberapa sahabat yang dia kasih tahu langsung menangis dan,
ajaibnya, dialah yang menghibur mereka!
Dari sanak-kerabat, wabilkhusus K.H. Ahmad Mustofa Bisri
atawa Gus Mus, tak ada yang kuminta selain doa, doa, dan doa untuk proses
kelancaran tindakan dan kesembuhan Tia. Aku merasa, sangat merasa, lemah
selemah-lemahnya di hadapan rahasia Tuhan atas peristiwa. Aku percaya, sungguh-sungguh
percaya, obat dan dokter hanyalah sistem upaya yang berada jauh di bawah sistem
penyembuhan-Nya.
Melalui Messenger, Yaik Mus menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Inna liLlah.
Khair insyaAllah. Kami ikut mengamini doa panjenengan. Semoga ananda Mutiara
Relung Sukma segera dianugerahi kesembuhan dengan sempurna. Al-Fatihah.”
Pada titik paling tidak berdaya, doa benar-benar menjadi penguat.
Lahir dan batin. Tercatatlah tercatat sebagai kebaikan yang terus mengalir….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar