“Tapi ini AC-nya sentral lho, tidak bisa dikecilkan dari
sini…” kata perawat itu.
“Iya, Mbak, gak papa,” sahut Tia.
“Sekarang silakan makan, seperti sahur, sampai kenyang.
Nanti pukul enam berhenti, puasa.”
“Lho, hanya digips, bukan mau operasi, kok puasa?”
tanyaku.
“Ya, untuk jaga-jaga, siapa tahu…”
“Ya, untuk jaga-jaga, siapa tahu…”
Tia bisa tidur. Alhamdulillah. Dia terbangun ketika
pagi-pagiseorang dokter muda datang, menyibak tirai, dan berujar, “Bagaimanapun
Bapak-Ibuk patut bersyukur, yang kena bukan tulang sumsum, sehingga tangan dan
kaki Mbak Mutiara masih bisa merespons dengan baik. Ini mau digips ya? Silakan
sarapan dulu, nanti puasa mulai jam tujuh.”
“Kok puasa?” tanyaku lagi.
“Iya, Pak, untuk antisipasi. Kalau bisa digips di poli
sambil berdiri, ya bagus, tidak perlu dibius. Puasa batal. Tapi kalau tak tahan
nyeri di punggung, ya harus dibius dan digips di ruang operasi. “
Kami pun menunggu undangan untuk gips itu. Datang lagi
dokter yang juga muda, berdua, tanya-tanya dan berkata dengan serbacepat,
kemudian berlalu. Tak ada info baru. Sekitar pukul
sepuluh, datang dokter yang semalam menjelaskan pada kami hasil ronsen
di IGD itu.
“Pak, menurut
Dokter Andi yang bertanggung jawab atas tindakan pada pasien, dengan
mempertimbangkan kondisi tulang belakang yang cedera, kami sarankan operasi
untuk anak Bapak, bukan body jacket atau
gips. Jika bersedia, kami sudah bisa jadwalkan, operasi hari Senin,” katanya.
Senin? Lha Sabtu-Minggu ngapain? Terus terang, aku bingung. Semalam kami dapat sodoran
pilihan, kemudian memutuskan, kini harus menimbang ulang.
“Kalau gips, bisa hari ini kan?”
“Ya kita lihat nanti. Karena itu, segera Bapak putuskan. Kalau lambat, ya harus antre lagi, jadwal ulang. Gitu nggih?” katanya, kemudian berbalik meninggalkan kami.
“Ya kita lihat nanti. Karena itu, segera Bapak putuskan. Kalau lambat, ya harus antre lagi, jadwal ulang. Gitu nggih?” katanya, kemudian berbalik meninggalkan kami.
Kutatap Tia. “Piye, Nduk?”
Dia angkat bahu. Entik juga nampak bimbang: sudah memilih
gips tapi kok dokter lebih menyarankan operasi.
*****
AKU beranjak menuju tempat para perawat. Pada salah
seorang yang tampak senior di antara mereka, aku bertanya soal biaya sebab saat
di IGD, info biaya operasi yang kami terima untuk kelas tiga.
“Tentu saja lebih mahal, Pak. Pakai BPJS atau umum?”
“Umum….”
“Waduh, bukan dana yang sedikit ini, Pak.”
“Sebenarnya kami sudah memilih gips tapi tadi dokter
menyarankan operasi…”
Dia tersenyum ramah dan mengatakan, “Gini aja, Pak. Nanti
Bapak bilang pada dokter, sementara pilih gips karena terbentur biaya. Besok
atau lusa Bapak urus BPJS, kalau sudah dapat, naaa… mungkin saja ambil tindakan
lain.”
Meski tak sependapat, aku tersenyum dan mengucapkan
terimakasih, lalu kembali ke kamar. Beberapa saat ngobrol dengan Tia dan Entik,
datang lagi dokter, perempuan, dan menyatakan bahwa kami harus bersyukur karena
meski yang cedera tulang belakang, secara umum Tia baik-baik saja. Cara bicara
dokter yang satu ini jelas dan tegas, tanpa kehilangan kesan ramah.
“Ibuk, Bapak, Mbak…. Ayo tanya apa, mumpung saya masih di
sini. Jangan sungkan atau ragu, tanya sebanyak-banyaknya, panjenengan punya hak
untuk menerima informasi selengkap mungkin.”
Maka bertanyalah kami soal “masih amankah jika tetap
pilih gips”. Dia minta perawat mengambil hasil ronsen. Dia mengamati dan
menjelaskan, termasuk kenapa dokter menyarankan operasi. “Meskipun demikian,
gips masih aman asal Mbak Mutiara benar-benar mau istirahat sekaligus repot
dengan gips di badan selama perawatan, sekitar tiga bulan.”
Mantap sudah. Segera kusampaikan keputusan kami pada
perawat untuk dia lanjutkan ke dokter. Lalu, ya kembali menunggu.
“Mestinya hari ini. Kalau nggak, mundur Senin, repot. Sabtu-Minggu
kita plonga-plongo di sini.”
“Nunggu dokter yang sedang weekend…”
sambung Tia sambil tertawa.
*****
AGAK lama selepas jumatan, barulah dokter yang
menyampaikan saran operasi datang dan mengatakan, “Menurut Dokter Andi, kalau
memang tetap gips, tidak hanya sepinggang tapi sampai paha kanan sebagai
penyangga, karena ruas yang cedera terletak agak bawah. Itu berarti setelah
digips nanti, pasien tak bisa duduk. Kalau iya, kita laksanakan sekarang di
poli.”
Aku menoleh ke Tia, kemudian mengangguk. Puasa batal karena “tindakan” tidak di ruang operasi. Tak tahulah kami, bagaimana cara mempertimbangkan tingkat kenyerian sehingga poli menjadi pilihan. Artinya, Tia akan digips tanpa bius. “Sediakan kaos singlet, minta bantuan perawat,” kata dokter itu sebelum berlalu.
Aku menoleh ke Tia, kemudian mengangguk. Puasa batal karena “tindakan” tidak di ruang operasi. Tak tahulah kami, bagaimana cara mempertimbangkan tingkat kenyerian sehingga poli menjadi pilihan. Artinya, Tia akan digips tanpa bius. “Sediakan kaos singlet, minta bantuan perawat,” kata dokter itu sebelum berlalu.
Tak lama setelah itu, dua perawat mendorong ranjang. Tia menyibukkan
diri dengan hapenya, aku dan Entik menyertai di sisi kanan dan kiri. Kalau ada
yang iseng merekam, pasti dapat gambar yang persis adegan dalam film-film itu!
Sesampai di pintu ruang tindakan, bapak-bapak perawat bertanya,
“Singletnya mana?” Entik menyerahkan kaos yang dia beli di kantin rumah sakit. “Wah,
ini tidak menyerap keringat. Beli lagi. Di minimarket seberang rumah sakit sana
ada.”
Aku melongo.
Entik meminta tolong salah satu teman Tia untuk keluar
dan beli singlet. Teman lain yang sedang di luar sana juga berusaha mencari
kaos yang sama. Perawat itu memberikan selembar catatan (semacam resep) padaku,
“Silakan ambil gips ke bagian farmasi.”
“Lho, tadi Erina ke farmasi, katanya mau ambil gips,”
kata Entik.
Saat itulah Erina dan Bangsa, dua-duanya sahabat Tia, datang
dengan sekotak gips. Perawat ngecek dan mengatakan, “Ini salah ukurannya,
terlalu kecil, gak akan cukup nanti. Tadi siapa yang suruh?”
“Tadi dapat resep dari perawat di bangsal sana,” jawab
Erina.
“Kembalikan, pakai resep yang ini saja.”
Aku melongo lagi.
Yang beli kaos datang. Setelah bungkus plastiknya dibuka
baru ketahuan, bukan singlet. Salah lagi. Untunglah, datang pula Muna, sahabat
lekat Tia yang lain, dengan kaos yang memenuhi syarat. Begitu “gips ralatan” tiba,
masuklah Tia ke ruang tindakan. Kami semua menunggu di luar. Sekitar setengah jam
kemudian, dia keluar dari ruang itu dengan gips sebadan plus paha kanan,
langsung “mampir” ke ruang ronsen.
Saat kembali ke kamar, Tia nggrundel, “Aku tahu sekarang. Ternyata bius itu perlu gak cuma biar
gak sakit tapi juga biar pasien gak denger obrolan dokter dan perawat…”
“Apa yang mereka obrolkan?” tanyaku.
“Untuk pasien, rak nyenengke tenan!”
“Untuk pasien, rak nyenengke tenan!”
“Misalnya?”
“Kok ndadak digips, dioperasi wae kan beres…”
“Kok ndadak digips, dioperasi wae kan beres…”
Aku tak bertanya lagi. Sibuk menyemai kesabaran sendiri.

sabar nggih pak budi dan keluarga...
BalasHapusnggih, suwun....
BalasHapus