Pertama, meski jarang bertemu, kami tidak pernah
benar-benar lepas kontak. Kami begitu akrab sehingga atmosfer persahabatan berubah
menjadi persaudaraan. Kedua, Mbak Hum istri (almarhum) dr Taufiq Adisusilo dan
anak-anaknya pun dokter. Tentu tahu atau
minimal cepat mendapatkan informasi pasti tentang hal-hal yang berkait dengan “dunia
kesehatan”. Tak sekali dua, ini keterlaluanku, aku minta “resep” obat saat
sakit.
Ketika rencana berubah, yaitu tinggal di Solo saja dulu, Senin
(5/3) pagi aku berkabar kembali via WA. Mbak Hum maklum dan bertanya soal ruang
opname. Aku menjawab: Tapi angil juga
cari kos2an. Ruang Ceplok Kembang. Satu jam lebih kemudian, giliran Mbak
Hum berkabar: Dik..aq lagi siap2 berusaha mangkat Solo. Wis nglancangi nembungke
kamar nggon adikku, ana Jajar. Ora adoh saka Pabelan. Kali tekan kono sore/bengi.
Yen batal takngabari.
Itu! Justru nglancangi
itu yang membuatku bisa nyicil ayem.
Kalaupun memang tak dapat kos-kosan, kamar di rumah adik Mbak Hum bisa untuk jujugan. Saat aku sampaikan perlu kamar
ber-AC, Mbak Hum cepat menjawab: cedhak
omah adikku ana homestay, Jln Duku. Bisa diinfo, dipilih.
Dan ketika tahu Tia bakal pulang sore itu, Mbak Hum
bertanya: Dik Bud karo sapa wae? Aku jawab: kami
bertiga, Mbak. Pesan berikutnya: Ok. aq
wis liwat Ortopedi. Ning nyang mbak yu sik, trus rono ya. Mbak Hum yang
asli Solo itu naik angkutan umum. Mestinya, bisa langsung turun di depan rumah
sakit. Aku nyicil ayem lagi karena
membaca tanda nyang mbak yu sik itu
agar bisa datang dengan mobil.
*****
BACAAN yang tak meleset. Sore itu Mbak Hum datang bersama
Bude Sri, kakaknya yang tentu lebih lansia namun sama-sama suka bercanda, serta
cucu keponakan yang santun dan jadi sopir dadakan, Nawan. Setelah ngobrol
sebentar, kami bergerak mencari kos-kosan juga. Berdasar informasi dari seorang
perawat, kami ke kampung dekat rumah sakit. “Banyak rumah singgah di situ,”
katanya.
Tiga rumah yang kami kunjungi penuh, tak ada kamar kosong.
Satu ada tapi di atas, lantai dua, tidak mungkin bagi Tia. “Wis, nyang omahe adikku ya Dik, didelok sik kamare,” putus Mbak
Hum. Kami pun ke sana. Di sepanjang perjalanan, obrolan sampai juga ke soal kebutuhan
ambulan dan tempat tidur tinggi seperti di rumah sakit. “Eyang dulu pernah
punya tempat tidur seperti itu, kayaknya sekarang di gudang,” kata Nawan.
Tanpa babibu lagi, Mbak Hum menelepon keponakannya, Om
Joko, ya bapak si Nawan. Dua kebutuhan dia sampaikan. “Nggih, saya usahakan, Bude,
nanti saya hubungi,” kata Om Joko.
Kami tiba di Jajar menjelang magrib. Sembari minum teh
dan makan biskuit, aku dan Entik menimbang-nimbang bagaimana enaknya, terutama
bagi Tia yang tak hanya butuh kamar tapi juga teman. Rumah itu memang tak jauh
dari rumah sakit…”Tapi jauh dari kos-kosan teman-teman Tia. Kasihan mereka
kalau riwa-riwi jauh ke sini,” kata
Entik.
Bersamaan dengan itu, datang info baru nomor kontak
kos-kosan dari Erina. Saat kontak nyambung, barulah jelas, tak bisa kalau hanya
tiga bulan. Minimal kos enam bulan. Erina dan kawan-kawan bergerak lagi meski
ada juga alternatif lain: tinggal sementara di rumah Ima.
Usai magriban, kami kembali ke rumah sakit untuk menyelesaikan
urusan administrasi. Mbak Hum agak “memaksa” hendak nraktir makan malam. Aku
menolak karena mau memastikan dulu Tia harus pulang ke mana: ke rumah adik Mbak
Hum, rumah Ima, kos-kosan baru, atau nginap lagi semalam di rumah sakit. “Nanti
takabari, Mbak…”
Sekitar pukul delapan malam, sekelar bayar dan dapat
surat keterangan boleh pulang, Muna mengabarkan dapat kos-kosan di daerah Gulon,
Jebres. “Ibuke kos welcome!” katanya.
Maksud dia, paham dan mau menerima Tia yang sedang sakit untuk kos selama
perawatan, sekitar tiga bulan.
Segera kuberitahu Mbak Hum dan jawabnya melegakan: Oke. Jadi
butuh tempat utk tidur to? Ini ambulan sdh bersama saya. Sekitar pukul sembilan,
dia datang hanya bersama Bude Sri. “Nawan ngeterke
bapakne njupuk dan terus nganter tempat tidur dulu ke Gulon, baru ke sini…”
katanya.
Kami pun menunggu sambil ringkes-ringkes bersama beberapa
teman Tia, ngobrol tentang apa saja, dan selalu berseling canda tawa. Hampir pukul
sebelas malam, aku terima pesan dari Nawan: Sudah
sampai, di lorong tempat parkir. Aku bergegas, ketemu dia dan ayahnya di depan
tempat perawat, sudah ndorong dragbar.
“Daripada pasiennya yang keluar,” kata Om Joko.
*****
AKU dan Entik mendekati seorang perawat yang sedang jaga.
“Mbak, anak kami mau pulang, bisa bantu memindahkan dari ranjang ke dragbar?”
Di luar dugaan, sambil berjalan menyertai kami ke kamar,
dia berkata dengan suara tinggi, “Sudah latihan mobilisasi belum tadi? Kalau
belum, saya gak akan mengizinkan pulang.”
“Latihan mobilisasi gimana? Ini sudah dapat izin pulang
dari sore tadi,” kata Entik.
“Ya latihan duduk, turun, jalan…”
“Latihan turun dan jalan, tadi pagi sudah.”
“Sudah bener? Kalau belum bisa, saya gak mengizinkan
pulang.”
Aku yang berjalan di belakang mbatin, cah ki karepe piye to? Dokter sudah mengizinkan, kok
perawat nyap-nyap seperti punya
kompetensi dan otoritas lebih. Aku tidak dengar Entik menjawab apalagi. Yang
kudengar kemudian saat masuk kamar, suara perawat itu lagi, “Wah, ini dragbar
ambulan terlalu tinggi, tidak sama dengan tinggi kasur, susah memindahkan
mbaknya.”
Om Joko bahkan tahu, selain tinggi, penyangga dragbar itu
tak berfungsi sempurna. Dia usul dragbar direndahkan dengan menahannya
ramai-ramai. Perawat menggeleng. “Nggak bisa. Terlalu berisiko. Saya nggak
berani.”
“Coba kasur itu dinaikkan paling tinggi seberapa,”
kataku.
Masih dengan suara kencang, perawat itu menjawab, “Nggak
bisa, Pak. Dragbar-nya yang memang
terlalu tinggi.”
Tengah malam, suara tinggi, padahal di ruang itu juga ada pasien lain yang sedang istirahat. Aku tak kuat lagi menahan. Dengan suara penuh tekanan aku katakan, “Mbak, naikkan kasur itu dan turunkan suara sampean!”
Tengah malam, suara tinggi, padahal di ruang itu juga ada pasien lain yang sedang istirahat. Aku tak kuat lagi menahan. Dengan suara penuh tekanan aku katakan, “Mbak, naikkan kasur itu dan turunkan suara sampean!”
Barulah dia melunak. Bersama-sama kami mencari cara
teraman dan termudah memindahkan Tia dari ranjang ke dragbar. Sebenarnya tinggal mengangkat Tia berikut seprai tapi
karena perbedaan tinggi yang mencolok, susah. “Minta bantuan satpam saja, Mbak, kan
kuat-kuat,” usul Om Joko.
Perawat itu menggeleng. “Ini bukan bagian satpam, saya
nggak berani. Kalau ada apa-apa, bisa salah. Saya panggil teman dulu.” Saat
balik, dia sendiri. “Nggak ada perawat
yang lain. Saya sudah minta dua satpam ke sini untuk membantu…”
Om Joko melirikku. Fyuuuuhhh!!! Kami angkat seprai
berikut Tia yang bertambah berat enam kilo karena gips itu. Dia meringis, pasti
karena nyeri di punggung. Aku lebih meringis karena dia meringis. “Pelan-pelan
ya, Mas…” kataku pada satpam yang turut mendorong dragbar keluar menuju parkiran. Saat jalan, keduanya rerasan, “Dragbar-nya nggak standar ini…”
“Kalau mau standar, ya mestinya rumah sakit ini yang
nyediain,” bisik Nawan.
Aku tertawa saja.
O ya, selain Om Joko yang nyetir ambulan dan Nawan yang
kembali menjadi “driver” bagi eyang-eyangnya, ada dua lagi cucu keponakan Mbak
Hum yang menyertai kami dengan naik motor. Siap membantu di kos-kosan. Ya
Allah! Ini keluarga besar, orang baik semua.
*****
DARI Pabelan ke Jebres, apalagi untuk ukuran membawa anak
yang sedang cedera pada tulang belakang, ternyata jauh juga. Sepanjang
perjalanan, aku turut menahan badanku sendiri, lebih-lebih ketika ambulan
melewati jeglongan atau polisi tidur.
Kurasa, Entik pun begitu.
Setiba di depan Kyza Kost, kami kaget bersama. Banyak
sekali yang menunggu, tak cewek tak cowok, semua teman Tia dari Massenca (Mahasiswa Seni Cinta Alam). Sebagian di antara
mereka sigap meminggirkan motor karena Om Joko hendak menaikkan ambulan hingga
ke depan kamar. Bayangkan, lewat tengah malam, ambulan masuk kos-kosan.
Ketika hendak memindahkan Tia ke tempat tidur, oho,
riuh-rendahlah suara. Rasa-rasanya semua ingin membantu tapi tempat terbatas.
Kupanggil beberapa cowok untuk mengangkat seprai, sekali lagi bersama Tia: “Pelan-pelan
ya, ati-ati, pelan-pelan ya. Satu, dua, tiga!”
Begitu terpindahkan, legalah sudah. Semua tertawa. Aku
juga meski dengan perasaan haru-biru. ”Tuhan,
berkahi pertemanan mereka ini,” seruku dalam hati. Seorang cowok memandang dengan
sorot mata iba tapi Tia menyergah, “Kowe
ngapa, Mas, kok sedih? Biasa waelaaah…”
“Anakmu edan-og,
Dik… Kaya kono!” kata Mbak Hum.
Padahal, yang sungguh-sungguh “edan” ya Mbak Hum. Besuk tak
hanya bersama saudara tetapi juga bersama jalan keluar bagi persoalan yang kami
hadapi hari itu. Lewat facebook, lima hari kemudian, Mbak Hum bercerita soal “menunda-nunda”
silaturahim ke rumah saudara-saudaranya di Solo sampai tergerak-rak untuk
berangkat Senin itu, pas dengan hari Tia boleh pulang. Dan, ya begitulah, “semua
berjalan sebagaimana mestinya”.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar