SETELAH kerepotan dan keributan saat Tia keluar dari rumah sakit, terutama perkara ambulan, waktu itu Entik berbisik, “Seminggu lagi Tia kontrol dan kita harus lebih siap. Kalau tidak pakai ambulan, coba Bapak perhatikan mobil tetangga, model dan jenis mana yang bisa kita gunakan untuk membawa Tia ke rumah sakit.”
Mbak Hum yang “ketiban repot” malam itu ternyata tak jera
membantu dengan memberikan kontak PMI Jateng, bahkan wartawan Suara Merdeka Biro Solo. Siapa tahu bisa
membantu kami. “Yen kepepet nyoba nyilih
dragbar kanggo ngangkat n mobil sing kaya ambulan. Aq lali merek-e. Faktor U…”
katanya via WA.
Senin (12/3), sehari sebelum jadwal periksa, aku ke Solo
dan belum kontak siapa pun untuk penyediaan ambulan. Bukan karena mengabaikan
saran melainkan karena “pertimbangan rasa” yang maaf beribu maaf tak bisa
kutulis di sini.
Begitu aku tiba di kos-kosan, Tia menyodorkan sesobek
kertas bertulis nama dan nomor hape. “Dari Ima, kontak sopir ambulan Solo
Peduli,” katanya. Ada dua nomor berurut atas
nama Pak Manto dan Pak Gik. “Kata Ima, kalau yang atas gak bisa, telepon yang
bawah,” tambah Tia.
Sore itu aku kontak Pak Manto. Setelah uluk salam,
menyampaikan maksud dan permohonan, aku lega karena mendapat jawaban, “Nggih, siap, Pak! Setengah delapan pagi saya
sampai di kos-kosan putri njenengan. Antre periksa pasti lama. Jadi besok saya antar
ke rumah sakit, lalu saya tinggal ngantar
orang lain ke Salatiga. Siang saya balik ke rumah sakit untuk menjemput njenengan. Kalau selesai periksa lebih
awal, njenengan telepon atau nunggu
saja. Ngoten nggih?”
Tentu saja aku menjawab, “Nggih, siap!”
*****
SELASA (13/3) pagi-pagi, Pak Manto telepon. “Pak, saya
datang jam tujuh nggih, lebih awal, soalnya
harus nganter ke Salatiga lebih gasik juga. Mboten napa-napa nggih?” Kujawab cepat, “Mboten napa-napa, Pak. Siaaap!” Dan segera aku sampaikan pada Entik
dan Tia untuk bersiap lebih awal.
Pak Manto sampai di depan kos-kosan tepat pukul tujuh.
Bukan main! Kusambut dengan jabat tangan erat. Dia tersenyum ramah, kemudian
menurunkan dragbar, dan kubantu mendorong
ke depan kamar. Dia agak kaget ketika melihat Tia berdiri dan berjalan mendekat.
“Karena gips sebadan hingga paha kanan, anak kami ini gak bisa duduk, Pak. Hanya
bisa rebah atau berdiri. Karena itu butuh ambulan,” kataku.
Dengan meja kecil untuk injakan, Tia naik dan rebah di dragbar. Pak Manto memintaku untuk menahan dragbar saat turun dari teras kos-kosan,
begitupun saat hendak masuk ke ambulan. Sebelum berangkat, dia menyorongkan
semacam formulir peminjaman. “Njenengan
ngisi niki rumiyin,” katanya sambil menyerahkan pulpen juga.
Aku tulislah nama, alamat, waktu, nomor telepon, dan
seterusnya hingga sampai pada pilihan jawaban untuk pelayanan: sigap, ramah…
ah, satu lagi aku lupa. Tanpa pikir panjang, kucentang pilihan “sigap”.
Sepanjang perjalanan yang tak buru-buru dengan bunyi
sirine “alus pisan”, terutama untuk menyibak lalu-lintas di perempatan, setelah
bertanya seperlunya perihal peristiwa yang sulung kami alami, Pak Manto
bertutur tentang Solo Peduli. Aku yang pernah kerja di koran, tak kuasa menahan
“hawa wawancara”. Walhasil, aku bertanya, Pak Manto menjawab sebagaimana
laiknya narasumber.
“Hasil wawancara” itu membuatku lebih tahu tentang Solo
Peduli yang menyediakan ambulan gratis untuk siapa saja, bukan hanya warga
Solo. Jika Tia tinggal di Semarang, misalnya, bisa saja aku meminta bantuan ambulan
gratis dari SoloPeduli. “Kami akan jemput di Semarang, kami antar ke rumah
sakit di Solo, lalu kami antar pulang ke Semarang,” tutur Pak Manto yang berwilayah
kerja Surakarta namun sering antar-jemput “pasien” ke luar kota.
Aku pernah menjadi karyawan dan sering mengeluhkan (pemilik)
perusahaan. Tidak demikian halnya dengan Pak Manto. Di sekujur ceritanya
tentang Solo Peduli, yang kudengar hanya kebanggaan. Tak sekali pun dia
sisipkan “keluhan”, padahal dua puluh empat jam dia harus siaga: siap membantu
siapa saja. “Kalau saya sedang tidak bisa, kami akan carikan sopir dan ambulan
wilayah lain. Kalau sedang tidak bisa juga, ya kami bantu carikan ambulan di
luar Solo Peduli.”
“Nggak capek, Pak, kerja nonstop begitu?” tanyaku, coba
memancing “keluhan”.
“Ya capek. Tapi kalau ikhlas, capek itu tidak ada apa-apanya,
hilang dengan sendirinya,” jawabnya dengan nada ringan. Bukan main!
Setelah Tia dapat giliran dan selesai periksa sekitar pukul
13.00, aku telepon Pak Manto. “Nggih, Pak, ini saya masih jalan dari Tingkir,
Salatiga. Satu jam lagi nggih?” jawabnya.
Kami menunggu di lobi gedung pelayanan terpadu sambil makan siang yang kami
pesan melalui jasa beli-antar online.
“Pak, tadi Ibuk tanya, kita ngasih uang rokok atau uang jajan
untuk Pak Manto nggak…” kata Tia ketika aku mendorong dragbar dari sisi atas kepalanya.
“Menurut kamu?”
“Menurut kamu?”
“Aku bilang sih nggak usah. Iya kalau diterima, kalau
ditolak kan malah nggak enak.”
“Jangan menggoda orang lurus,” kataku pada Entik,
kemudian.
Sekitar pukul dua, Pak Manto datang menjemput dan
mengantar kami kembali ke kos-kosan. Kali ini dia mundurkan ambulan, naik teras
sampai ke depan kamar. Sigap dia keluarkan dragbar,
aku mengambil meja kecil untuk pijakan.
Begitu Tia sudah turun, Pak Manto memasukkan dragbar ke dalam ambulan dengan gerakan seperti
buru-buru. Pun saat pamitan. Bahasa tubuh yang kubaca sebagai tak memberikan
waktu bagi kami untuk “menggoda”. Bersalaman dan saling mengucapkan terimakasih
tampak sudah cukup baginya. Bukan main!
*****
SEKITAR satu bulan kemudian, tepatnya hari Selasa 10 April
2018, aku telepon lagi Pak Manto untuk keperluan yang sama. Tetap ramah saat
menerima meski jawaban berbeda. “Wah, besok pagi saya ke Sragen. Coba telepon
Pak Gik, nanti saya kasih nomor hapenya. Rumahnya dekat dengan kos-kosan putri njenengan, ambulannya juga di situ,”
katanya. “Semoga bisa.”
Segera kulaksanakan saran itu. “Oh, nggih, Pak, bisa. Nggih,
jam delapan. Rumah saya dekat sini kok. Njenengan
dapat nomor hape saya dari siapa?”
“Dari Pak Manto. Tapi ternyata sudah punya, dulu dikasih
teman anak saya.”
Rabu (13/4) pagi, sama dengan Pak Manto, Pak Gik datang
tepat waktu. Begitu turun dari mobil dan kusambut dengan jabat tangan, dia
langsung berjalan ke teras kos-kosan melewati Tia yang berdiri siap berangkat,
dan melongok kamar. “Lho, yang sakit mana?” tanya Pak Gik.
Aku, Entik, dan Tia tertawa.
“Ini lho, Pak, anaknya sudah berdiri di sini…” jawabku.
Dia berbalik dan memandang Tia dengan heran. Dan aku pun
menjelaskan seperti kepada Pak Manto.
“Masya Allah, mboten
ketingal sakit, ternyata…”
Dengan proses dan prosedur yang sama, kami berangkat ke
Rumah Sakit Ortopedi Dr. Soeharso. Saat mengisi formulir permintaan bantuan,
aku tak lagi memilih satu di antara tiga pilihan kesan atas pelayanan.
Kucentang semua.
Dalam hal berbagi cerita, Pak Gik lebih ramai ketimbang
Pak Manto namun nada dasarnya sama: penuh kebanggaan pada lembaga. “Saya selalu
ngajak ngobrol begini, biar Bapak nggak sedih karena anak sakit,” katanya.
Mengalirlah banyak cerita, termasuk tentang anak,
pekerjaan yang dulu-dulu, hingga menjadi sopir ambulan gratis Solo Peduli. “Mengantar
jemput orang sakit membuat saya menyadari, sehat itu benar-benar mahal. Karena bekerja
sebagai sopir ambulan, saya jadi selalu ingat untuk bersyukur. Bayangkan, sudah
sehat, masih juga bisa membantu orang yang sedang sakit, sedang susah…” tutur Pak
Gik yang berwilayah kerja Karanganyar.
Dia melanjutkan, “Kalau ada orang seperti njenengan telepon, pertama-tama saya
bersyukur pada Tuhan, kemudian juga berterimakasih pada njenengan karena menjadi
sebab saya punya kesempatan membantu. Kalau memang tidak ada alangan apa pun, saya
tidak akan menolak. Hidup di sini hanya sementara, harus manfaat
sebisa-bisanya, syukur-syukur bagi banyak orang untuk bekal hidup selamanya di
sana.”
Aku diam, mendengarkan. Dan takjub! Biasanya, memang
sudah tugasnya pun orang akan tetap mengeluh ketika harus melaksanakan. Dari
karena malas sampai karena merasa terganggu. Sedangkan ini, tidak hanya tak
malas, tidak hanya tak terganggu, tapi juga bersyukur, bahkan berterimakasih
pada orang yang meminta bantuan seperti kami ini. Bukan main!
Dari Pak Manto dan Pak Gik, otomatis juga Solo Peduli,
kami tak sekadar mendapat bantuan berupa ambulan gratis (tis) tetapi juga
asupan rohani bergizi tinggi: bekerja dan membantu orang lain dengan kesungguhan hati, bukan semata
untuk hari ini melainkan justru untuk hari nanti…

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusmampir sini lagi mas, kangen ternyata ama crita2 ini
BalasHapusAku malah baru mampir lagi sekarang.Apakah memang harus ngeblog lagi?
Hapus