“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam. Pak, hehehe, aku jatuh…”
“Duh, Nduk!” Sontak terbayang jalan raya Semarang-Solo yang penuh bus dan truk itu. “Jatuh di mana? Jatuhnya gimana?”
“Udah sampai Solo. Aku sama temen, mau nonton. Ada mobil berhenti mendadak, mobil di belakangnya nabrak, motor nabrak mobil yang nabrak itu.”
“Kamu yang nyetir?”
“Nggak, aku mbonceng.”
“Luka, Nduk?”
“Luka dikit… tapi tulang belakang kena.”
“MasyaAllah, Nduk!” Yang ini maklhab benar rasanya.
“Teman yang nyetir gimana?”
“Nggak papa, cuma giginya patah. Ni aku di IGD rumah
sakit ortopedi, kebetulan tabrakane
gak jauh dari sini. Udah dironsen. “
“Hasilnya?”
“Doktere mau ngomong sama Bapak. Nanti kalau dah siap,
Bapak taktelpon lagi ya.”
“Ya…”
Aku tercentang di antara kekhawatiran soal cedera tulang belakang dan kelegaan atas kenyataan Tia masih bisa menelepon, bahkan mengabarkan sendiri musibah itu dengan awalan “hehehe”. Dan justru aku menangis karena itu!
Setelah menyampaikan kabar berikut kronologi pada Entik yang sedang melipati pakaian di tempat tidur, aku pamit ke masjid. Aku benar-benar merasa perlu waktu dan tempat khusus untuk “sujud”.
Tak lama, si Bungsu menyusul ke masjid.
“Ada apa, Gih?”
“Kata Ibuk, Bapak suruh pulang, Mbak Tia telepon.”
Aku bergegas. Begitu kuterima telepon, Tia hanya mengatakan, “Bapak ke sini, sekarang. Doktere mau menjelaskan langsung.”
*****
TAK ada pilihan. Kusuruh pulang Biru yang sedang di rumah
teman. Berempat kami ke RS Ortopedi Dr. Soeharso Surakarta, diantar oleh Mas
Didin, tetangga sebelah rumah yang kok ya ndilalah
kersaning Allah baru saja beli mobil. Gres!
Sepanjang perjalanan, kami tak banyak cakap. Entik pilih “tidur”, Gigih mapan di jok belakang. Biru duduk di depan, sesekali ngobrol dengan Mas Didin. Aku, selain “sibuk dengan diri sendiri”, berkabar pada satu-dua kerabat dan sahabat. Benar-benar hanya satu atau dua. Ada perasaan sangat kuat untuk tak mengabarkan musibah ini ke banyak saudara dan teman, apalagi via status facebook, whatsApp, atau instagram.
Tiba di rumah sakit sekitar pukul setengah dua belas malam. Terang bulan menjelang purnama. Teman-teman kuliah Tia menyambut dengan salim takzim. Bersegera kami masuk, menemui Tia yang terbaring di salah satu bilik IGD. Senyumnya bercampur dengan seringai karena nyeri di punggung.
Setelah kembali mendengarkan cerita tentang tabrakan itu, lebih lengkap, termasuk dengan siapa dia berboncengan, aku dan Entik menemui dokter jaga yang segera saja memajang hasil ronsen dan menyalakan lampu hingga foto tulang-tulang putri kami menampak. Dari samping, ruas tulang yang cedera sudah dia “pertegas” dengan spidol merah. Menurut susunan: 1, 2, 3.
“Ruas kedua inilah yang kena saat putri Bapak jatuh. Selain bentuk berubah karena tertekan, bisa Bapak lihat, juga sedikit bergeser,” katanya. Dia menjelaskan banyak hal lain hingga pada pilihan tindakan: operasi (menyusupkan pen di tulang belakang), pemasangan body jacket atau gips sebadan (dari atas dada sampai pinggang), dan korset yang bisa lepas-pasang. “Kalau melihat posisi ruas yang cedera ini, pilihan ketiga tidak kami sarankan karena berkemungkinan melakukan gerakan yang membahayakan tulang belakang,” tambahnya.
Saat kami tanyakan kelebihan dan kekurangan dua pilihan itu, dia menjelaskan bahwa operasi lebih afdol karena penjagaan ruas tulang agar tidak bergerak lebih pasti. Pemulihan lebih cepat. Sedangkan jika memakai gips sebadan tentu lebih merepotkan, “tak bisa ngapa-ngapain” (termasuk mandi) selama tiga bulan.
“Dari segi biaya, berapa bedanya?”
“Wah, soal biaya saya tidak tahu, bukan wewenang saya. Bapak bisa tanyakan pada petugas itu,” jawabnya sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk di dekat meja pelayanan. “Bapak punya BPJS?”
Aku menggeleng. “Tidak.”
“Wah, padahal kasus begini ini bisa dikaver penuh oleh BPJS, Pak… bahkan operasi sekalipun. Sekarang silakan Bapak pertimbangkan ya.”
*****
DARI dokter, aku menemui petugas pendaftaran pasien dan meminta
keterangan soal biaya untuk dua pilihan tindakan itu. Dia serta-merta menjelaskan
biaya yang harus kami keluarkan di kelas tiga. Biaya operasi sepuluh kali lipat
biaya pemasangan gips.
Sejak dokter menjelaskan sekaligus menyarankan, sebenarnyalah operasi tak menjadi pilihan bagiku. Bukan sekadar perkara biaya melainkan soal manalah tega. Apalagi, alhamdulillah, Tia “baik-baik saja”. Komunikasi lancar, tak lupa bercanda dan tertawa, gerak anggota badan yang lain pun tak terganggu, tetap sebagaimana biasa.
Setelah berembuk dengan menimbang ini dan itu, kami putuskan gips saja. “Tiga bulan badan jadi lebih berat lho, Nduk...” kataku.
Dia tersenyum, “Punggung sakit begini, aku toh gak akan ke mana-mana.”
Kembali aku menemui petugas dan menyampaikan keputusan kami. “Anak saya bisa dipindah ke kamar sekarang kan?”
“Sebentar, saya tanyakan dulu…” Setelah menelepon perawat entah di mana, dia mengatakan, “Kamar kelas tiga penuh, Pak.”
Aku menoleh dan menatap Entik. Kami bersepakat dengan saling mengangguk. “Kalau kelas dua, biaya jadi berapa?” Petugas itu membuka-buka catatan, kemudian menyebut angka kenaikan. “Ya sudah, kelas dua,” putusku. Dia menelepon perawat lagi, lalu mengatakan padaku, “Kamar kelas dua ada, Pak.”
“Anak saya bisa pindah ke kamar sekarang juga?”
“Belum, Pak… ini proses administrasi dulu. Ambulans juga belum siap. Nanti subuh baru bisa dipindah ke kamar.”
Weeee… lha, padahal saat itu baru hampir pukul dua! Buru-buru kutekan kekhawatiran, kutekan ketidaksabaran. Minimal, ya, sangat minimal kulihat beberapa perawat mulai bergerak menangani Tia, termasuk memasang infus dan menyuntikkan obat pereda nyeri ke dalamnya --yang entah kenapa tidak sedari kali pertama Tia masuk IGD. Saat proses foto ronsen itu, cerita Tia kemudian, dia sangat kesakitan. “Rasanyaaaaaaa hooaaaahhh!!!”
Ya Allah Ya ‘Aziz… dalam kesakitan yang “hoaaahhh” begitu, dia meneleponku, mengabarkan musibah itu dengan awalan “hehehe”. Pada Tia, ya pada si Sulung yang pernah menjadi ketua mapala di kampus ISI Solo ini, kami wabilkhusus aku mesti belajar tentang rasa sakit dan kekuatan menahannya…


semoga tia lekas sehat kembali, Pak Bud... Amin..
BalasHapusAllahumma sehat wal afiat wal manfaat...
Hapussuwun
Mbak Tia semoga pulih kembali dan segala proses penyembuhan diperlancar
BalasHapusaaamiiin....
Hapussmga lekas sembuh...
BalasHapusamin ya robbal 'alamin...
Hapus(serasa sedang berada pada "masa kejayaan" blog, hehe
Wiew dodol Rasane. Aku wes tau nganti edan. Allah sedang meningkatkan kelas kalian. Wiew
BalasHapussemogalah semoga demikian adanya...
Hapus