Jumat, 16 Maret 2018

Sibuk Menyemai Kesabaran

SEORANG perawat menyambut dan mengantar kami ke kamar 12 bangsal Ceplok Kembang, menjelang subuh, Jumat 3 Maret 2018. Entik dan Tia memilih tempat tidur dekat jendela , jadi berkesan rumah, dan di bawah AC untuk mengantisipasi badan sesudah digips nanti karena pasti sumuk.  

“Tapi ini AC-nya sentral lho, tidak bisa dikecilkan dari sini…” kata perawat itu.
“Iya, Mbak, gak papa,” sahut Tia.
“Sekarang silakan makan, seperti sahur, sampai kenyang. Nanti pukul enam berhenti, puasa.”
“Lho, hanya digips, bukan mau operasi, kok puasa?” tanyaku.
“Ya, untuk jaga-jaga, siapa tahu…”

Tia bisa tidur. Alhamdulillah. Dia terbangun ketika pagi-pagiseorang dokter muda datang, menyibak tirai, dan berujar, “Bagaimanapun Bapak-Ibuk patut bersyukur, yang kena bukan tulang sumsum, sehingga tangan dan kaki Mbak Mutiara masih bisa merespons dengan baik. Ini mau digips ya? Silakan sarapan dulu, nanti puasa mulai jam tujuh.”

“Kok puasa?” tanyaku lagi.
“Iya, Pak, untuk antisipasi. Kalau bisa digips di poli sambil berdiri, ya bagus, tidak perlu dibius. Puasa batal. Tapi kalau tak tahan nyeri di punggung, ya harus dibius dan digips di ruang operasi. “

Kami pun menunggu undangan untuk gips itu. Datang lagi dokter yang juga muda, berdua, tanya-tanya dan berkata dengan serbacepat, kemudian berlalu. Tak ada info baru.  Sekitar pukul  sepuluh, datang dokter yang semalam menjelaskan pada kami hasil ronsen di IGD itu.  

“Pak, menurut  Dokter Andi yang bertanggung jawab atas tindakan pada pasien, dengan mempertimbangkan kondisi tulang belakang yang cedera, kami sarankan operasi untuk anak Bapak, bukan body jacket atau gips. Jika bersedia, kami sudah bisa jadwalkan, operasi hari Senin,” katanya.

Senin? Lha Sabtu-Minggu ngapain? Terus terang, aku bingung. Semalam kami dapat sodoran pilihan, kemudian memutuskan, kini harus menimbang ulang.

“Kalau gips, bisa hari ini kan?”
“Ya kita lihat nanti. Karena itu, segera Bapak putuskan. Kalau lambat, ya harus antre lagi, jadwal ulang. Gitu nggih?” katanya, kemudian berbalik meninggalkan kami.

Kutatap Tia. “Piye, Nduk?”
Dia angkat bahu. Entik juga nampak bimbang: sudah memilih gips tapi kok dokter lebih menyarankan operasi.

*****

AKU beranjak menuju tempat para perawat. Pada salah seorang yang tampak senior di antara mereka, aku bertanya soal biaya sebab saat di IGD, info biaya operasi yang kami terima untuk kelas tiga.

“Tentu saja lebih mahal, Pak. Pakai BPJS atau umum?”
“Umum….”
“Waduh, bukan dana yang sedikit ini, Pak.”
“Sebenarnya kami sudah memilih gips tapi tadi dokter menyarankan operasi…”

Dia tersenyum ramah dan mengatakan, “Gini aja, Pak. Nanti Bapak bilang pada dokter, sementara pilih gips karena terbentur biaya. Besok atau lusa Bapak urus BPJS, kalau sudah dapat, naaa… mungkin saja ambil tindakan lain.”

Meski tak sependapat, aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih, lalu kembali ke kamar. Beberapa saat ngobrol dengan Tia dan Entik, datang lagi dokter, perempuan, dan menyatakan bahwa kami harus bersyukur karena meski yang cedera tulang belakang, secara umum Tia baik-baik saja. Cara bicara dokter yang satu ini jelas dan tegas, tanpa kehilangan kesan ramah.

“Ibuk, Bapak, Mbak…. Ayo tanya apa, mumpung saya masih di sini. Jangan sungkan atau ragu, tanya sebanyak-banyaknya, panjenengan punya hak untuk menerima informasi selengkap mungkin.”

Maka bertanyalah kami soal “masih amankah jika tetap pilih gips”. Dia minta perawat mengambil hasil ronsen. Dia mengamati dan menjelaskan, termasuk kenapa dokter menyarankan operasi. “Meskipun demikian, gips masih aman asal Mbak Mutiara benar-benar mau istirahat sekaligus repot dengan gips di badan selama perawatan, sekitar tiga bulan.”

Mantap sudah. Segera kusampaikan keputusan kami pada perawat untuk dia lanjutkan ke dokter. Lalu, ya kembali menunggu.

“Mestinya hari ini. Kalau nggak, mundur Senin, repot. Sabtu-Minggu kita plonga-plongo di sini.”
“Nunggu dokter yang sedang  weekend…” sambung Tia sambil tertawa.

*****

AGAK lama selepas jumatan, barulah dokter yang menyampaikan saran operasi datang dan mengatakan, “Menurut Dokter Andi, kalau memang tetap gips, tidak hanya sepinggang tapi sampai paha kanan sebagai penyangga, karena ruas yang cedera terletak agak bawah. Itu berarti setelah digips nanti, pasien tak bisa duduk. Kalau iya, kita laksanakan sekarang di poli.”

Aku menoleh ke Tia, kemudian mengangguk. Puasa batal karena “tindakan” tidak di ruang operasi. Tak tahulah kami, bagaimana cara mempertimbangkan tingkat kenyerian sehingga poli menjadi pilihan. Artinya, Tia akan digips tanpa bius. “Sediakan kaos singlet, minta bantuan perawat,” kata dokter itu sebelum berlalu.

Tak lama setelah itu, dua perawat mendorong ranjang. Tia menyibukkan diri dengan hapenya, aku dan Entik menyertai di sisi kanan dan kiri. Kalau ada yang iseng merekam, pasti dapat gambar yang persis adegan dalam film-film itu!

Sesampai di pintu ruang tindakan, bapak-bapak perawat bertanya, “Singletnya mana?” Entik menyerahkan kaos yang dia beli di kantin rumah sakit. “Wah, ini tidak menyerap keringat. Beli lagi. Di minimarket seberang rumah sakit sana ada.”

Aku melongo.

Entik meminta tolong salah satu teman Tia untuk keluar dan beli singlet. Teman lain yang sedang di luar sana juga berusaha mencari kaos yang sama. Perawat itu memberikan selembar catatan (semacam resep) padaku, “Silakan ambil gips ke bagian farmasi.”

“Lho, tadi Erina ke farmasi, katanya mau ambil gips,” kata Entik.

Saat itulah Erina dan Bangsa, dua-duanya sahabat Tia, datang dengan sekotak gips. Perawat ngecek dan mengatakan, “Ini salah ukurannya, terlalu kecil, gak akan cukup nanti. Tadi siapa yang suruh?”

“Tadi dapat resep dari perawat di bangsal sana,” jawab Erina.
“Kembalikan, pakai resep yang ini saja.”

Aku melongo lagi.

Yang beli kaos datang. Setelah bungkus plastiknya dibuka baru ketahuan, bukan singlet. Salah lagi. Untunglah, datang pula Muna, sahabat lekat Tia yang lain, dengan kaos yang memenuhi syarat. Begitu “gips ralatan” tiba, masuklah Tia ke ruang tindakan. Kami semua menunggu di luar. Sekitar setengah jam kemudian, dia keluar dari ruang itu dengan gips sebadan plus paha kanan, langsung “mampir” ke ruang ronsen.

Saat kembali ke kamar, Tia nggrundel, “Aku tahu sekarang. Ternyata bius itu perlu gak cuma biar gak sakit tapi juga biar pasien gak denger obrolan dokter dan perawat…”

“Apa yang mereka obrolkan?” tanyaku.
“Untuk pasien, rak nyenengke tenan!”
“Misalnya?”
“Kok ndadak digips, dioperasi wae kan beres…”

Aku tak bertanya lagi. Sibuk menyemai kesabaran sendiri. 


2 komentar: