Senin, 30 April 2018

Orang dan Lembaga Bukan Main!


SETELAH kerepotan dan keributan saat Tia keluar dari rumah sakit, terutama perkara ambulan, waktu itu Entik berbisik, “Seminggu lagi Tia kontrol dan kita harus lebih siap. Kalau tidak pakai ambulan, coba Bapak perhatikan mobil tetangga, model dan jenis mana yang bisa kita gunakan untuk membawa Tia ke rumah sakit.”

Mbak Hum yang “ketiban repot” malam itu ternyata tak jera membantu dengan memberikan kontak PMI Jateng, bahkan wartawan Suara Merdeka Biro Solo. Siapa tahu bisa membantu kami. “Yen kepepet nyoba nyilih dragbar kanggo ngangkat n mobil sing kaya ambulan. Aq lali merek-e. Faktor U…” katanya via WA.

Senin (12/3), sehari sebelum jadwal periksa, aku ke Solo dan belum kontak siapa pun untuk penyediaan ambulan. Bukan karena mengabaikan saran melainkan karena “pertimbangan rasa” yang maaf beribu maaf tak bisa kutulis di sini.

Begitu aku tiba di kos-kosan, Tia menyodorkan sesobek kertas bertulis nama dan nomor hape. “Dari Ima, kontak sopir ambulan Solo Peduli,” katanya.  Ada dua nomor berurut atas nama Pak Manto dan Pak Gik. “Kata Ima, kalau yang atas gak bisa, telepon yang bawah,” tambah Tia.

Sore itu aku kontak Pak Manto. Setelah uluk salam, menyampaikan maksud dan permohonan, aku lega karena mendapat jawaban, “Nggih, siap, Pak! Setengah delapan pagi saya sampai di kos-kosan putri njenengan.  Antre periksa pasti lama. Jadi besok saya antar ke rumah sakit, lalu saya tinggal ngantar orang lain ke Salatiga. Siang saya balik ke rumah sakit untuk menjemput njenengan. Kalau selesai periksa lebih awal, njenengan telepon atau nunggu saja. Ngoten nggih?”

Tentu saja aku menjawab, “Nggih, siap!”

*****
SELASA (13/3) pagi-pagi, Pak Manto telepon. “Pak, saya datang jam tujuh nggih, lebih awal, soalnya harus nganter ke Salatiga lebih gasik juga. Mboten napa-napa nggih?”  Kujawab cepat, “Mboten napa-napa, Pak. Siaaap!” Dan segera aku sampaikan pada Entik dan Tia untuk bersiap lebih awal.

Pak Manto sampai di depan kos-kosan tepat pukul tujuh. Bukan main! Kusambut dengan jabat tangan erat. Dia tersenyum ramah, kemudian menurunkan dragbar, dan kubantu mendorong ke depan kamar. Dia agak kaget ketika melihat Tia berdiri dan berjalan mendekat. “Karena gips sebadan hingga paha kanan, anak kami ini gak bisa duduk, Pak. Hanya bisa rebah atau berdiri. Karena itu butuh ambulan,” kataku.

Dengan meja kecil untuk injakan, Tia naik dan rebah di dragbar.  Pak Manto memintaku untuk menahan dragbar saat turun dari teras kos-kosan, begitupun saat hendak masuk ke ambulan. Sebelum berangkat, dia menyorongkan semacam formulir peminjaman. “Njenengan ngisi niki rumiyin,” katanya sambil menyerahkan pulpen juga.

Aku tulislah nama, alamat, waktu, nomor telepon, dan seterusnya hingga sampai pada pilihan jawaban untuk pelayanan: sigap, ramah… ah, satu lagi aku lupa. Tanpa pikir panjang, kucentang pilihan “sigap”.

Sepanjang perjalanan yang tak buru-buru dengan bunyi sirine “alus pisan”, terutama untuk menyibak lalu-lintas di perempatan, setelah bertanya seperlunya perihal peristiwa yang sulung kami alami, Pak Manto bertutur tentang Solo Peduli. Aku yang pernah kerja di koran, tak kuasa menahan “hawa wawancara”. Walhasil, aku bertanya, Pak Manto menjawab sebagaimana laiknya narasumber.

“Hasil wawancara” itu membuatku lebih tahu tentang Solo Peduli yang menyediakan ambulan gratis untuk siapa saja, bukan hanya warga Solo. Jika Tia tinggal di Semarang, misalnya, bisa saja aku meminta bantuan ambulan gratis dari SoloPeduli. “Kami akan jemput di Semarang, kami antar ke rumah sakit di Solo, lalu kami antar pulang ke Semarang,” tutur Pak Manto yang berwilayah kerja Surakarta namun sering antar-jemput “pasien” ke luar kota.

Aku pernah menjadi karyawan dan sering mengeluhkan (pemilik) perusahaan. Tidak demikian halnya dengan Pak Manto. Di sekujur ceritanya tentang Solo Peduli, yang kudengar hanya kebanggaan. Tak sekali pun dia sisipkan “keluhan”, padahal dua puluh empat jam dia harus siaga: siap membantu siapa saja. “Kalau saya sedang tidak bisa, kami akan carikan sopir dan ambulan wilayah lain. Kalau sedang tidak bisa juga, ya kami bantu carikan ambulan di luar Solo Peduli.”

“Nggak capek, Pak, kerja nonstop begitu?” tanyaku, coba memancing “keluhan”.
“Ya capek. Tapi kalau ikhlas, capek itu tidak ada apa-apanya, hilang dengan sendirinya,” jawabnya dengan nada ringan. Bukan main!

Setelah Tia dapat giliran dan selesai periksa sekitar pukul 13.00, aku telepon Pak Manto. “Nggih, Pak, ini saya masih jalan dari Tingkir, Salatiga. Satu jam lagi nggih?” jawabnya. Kami menunggu di lobi gedung pelayanan terpadu sambil makan siang yang kami pesan melalui jasa beli-antar online.

“Pak, tadi Ibuk tanya, kita ngasih uang rokok atau uang jajan untuk Pak Manto nggak…” kata Tia ketika aku mendorong dragbar dari sisi atas kepalanya.
“Menurut kamu?”
“Aku bilang sih nggak usah. Iya kalau diterima, kalau ditolak kan malah nggak enak.”
“Jangan menggoda orang lurus,” kataku pada Entik, kemudian.

Sekitar pukul dua, Pak Manto datang menjemput dan mengantar kami kembali ke kos-kosan. Kali ini dia mundurkan ambulan, naik teras sampai ke depan kamar. Sigap dia keluarkan dragbar, aku mengambil meja kecil untuk pijakan.

Begitu Tia sudah turun, Pak Manto memasukkan dragbar ke dalam ambulan dengan gerakan seperti buru-buru. Pun saat pamitan. Bahasa tubuh yang kubaca sebagai tak memberikan waktu bagi kami untuk “menggoda”. Bersalaman dan saling mengucapkan terimakasih tampak sudah cukup baginya. Bukan main!

*****
SEKITAR satu bulan kemudian, tepatnya hari Selasa 10 April 2018, aku telepon lagi Pak Manto untuk keperluan yang sama. Tetap ramah saat menerima meski jawaban berbeda. “Wah, besok pagi saya ke Sragen. Coba telepon Pak Gik, nanti saya kasih nomor hapenya. Rumahnya dekat dengan kos-kosan putri njenengan, ambulannya juga di situ,” katanya. “Semoga bisa.”

Segera kulaksanakan saran itu. “Oh, nggih, Pak, bisa. Nggih, jam delapan. Rumah saya dekat sini kok. Njenengan dapat nomor hape saya dari siapa?”

“Dari Pak Manto. Tapi ternyata sudah punya, dulu dikasih teman anak saya.”

Rabu (13/4) pagi, sama dengan Pak Manto, Pak Gik datang tepat waktu. Begitu turun dari mobil dan kusambut dengan jabat tangan, dia langsung berjalan ke teras kos-kosan melewati Tia yang berdiri siap berangkat, dan melongok kamar. “Lho, yang sakit mana?” tanya Pak Gik.

Aku, Entik, dan Tia tertawa.

“Ini lho, Pak, anaknya sudah berdiri di sini…” jawabku.

Dia berbalik dan memandang Tia dengan heran. Dan aku pun menjelaskan seperti kepada Pak Manto.

“Masya Allah, mboten ketingal  sakit, ternyata…”

Dengan proses dan prosedur yang sama, kami berangkat ke Rumah Sakit Ortopedi Dr. Soeharso. Saat mengisi formulir permintaan bantuan, aku tak lagi memilih satu di antara tiga pilihan kesan atas pelayanan. Kucentang semua.

Dalam hal berbagi cerita, Pak Gik lebih ramai ketimbang Pak Manto namun nada dasarnya sama: penuh kebanggaan pada lembaga. “Saya selalu ngajak ngobrol begini, biar Bapak nggak sedih karena anak sakit,” katanya.

Mengalirlah banyak cerita, termasuk tentang anak, pekerjaan yang dulu-dulu, hingga menjadi sopir ambulan gratis Solo Peduli. “Mengantar jemput orang sakit membuat saya menyadari, sehat itu benar-benar mahal. Karena bekerja sebagai sopir ambulan, saya jadi selalu ingat untuk bersyukur. Bayangkan, sudah sehat, masih juga bisa membantu orang yang sedang sakit, sedang susah…” tutur Pak Gik yang berwilayah kerja Karanganyar.

Dia melanjutkan, “Kalau ada orang seperti njenengan telepon, pertama-tama saya bersyukur pada Tuhan, kemudian juga berterimakasih pada njenengan  karena menjadi sebab saya punya kesempatan membantu. Kalau memang tidak ada alangan apa pun, saya tidak akan menolak. Hidup di sini hanya sementara, harus manfaat sebisa-bisanya, syukur-syukur bagi banyak orang untuk bekal hidup selamanya di sana.”

Aku diam, mendengarkan. Dan takjub! Biasanya, memang sudah tugasnya pun orang akan tetap mengeluh ketika harus melaksanakan. Dari karena malas sampai karena merasa terganggu. Sedangkan ini, tidak hanya tak malas, tidak hanya tak terganggu, tapi juga bersyukur, bahkan berterimakasih pada orang yang meminta bantuan seperti kami ini. Bukan main!

Dari Pak Manto dan Pak Gik, otomatis juga Solo Peduli, kami tak sekadar mendapat bantuan berupa ambulan gratis (tis) tetapi juga asupan rohani bergizi tinggi: bekerja dan membantu orang lain dengan kesungguhan hati, bukan semata untuk hari ini melainkan justru untuk hari nanti…

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. mampir sini lagi mas, kangen ternyata ama crita2 ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah baru mampir lagi sekarang.Apakah memang harus ngeblog lagi?

      Hapus