Senin, 30 April 2018

Orang dan Lembaga Bukan Main!


SETELAH kerepotan dan keributan saat Tia keluar dari rumah sakit, terutama perkara ambulan, waktu itu Entik berbisik, “Seminggu lagi Tia kontrol dan kita harus lebih siap. Kalau tidak pakai ambulan, coba Bapak perhatikan mobil tetangga, model dan jenis mana yang bisa kita gunakan untuk membawa Tia ke rumah sakit.”

Mbak Hum yang “ketiban repot” malam itu ternyata tak jera membantu dengan memberikan kontak PMI Jateng, bahkan wartawan Suara Merdeka Biro Solo. Siapa tahu bisa membantu kami. “Yen kepepet nyoba nyilih dragbar kanggo ngangkat n mobil sing kaya ambulan. Aq lali merek-e. Faktor U…” katanya via WA.

Senin (12/3), sehari sebelum jadwal periksa, aku ke Solo dan belum kontak siapa pun untuk penyediaan ambulan. Bukan karena mengabaikan saran melainkan karena “pertimbangan rasa” yang maaf beribu maaf tak bisa kutulis di sini.

Begitu aku tiba di kos-kosan, Tia menyodorkan sesobek kertas bertulis nama dan nomor hape. “Dari Ima, kontak sopir ambulan Solo Peduli,” katanya.  Ada dua nomor berurut atas nama Pak Manto dan Pak Gik. “Kata Ima, kalau yang atas gak bisa, telepon yang bawah,” tambah Tia.

Sore itu aku kontak Pak Manto. Setelah uluk salam, menyampaikan maksud dan permohonan, aku lega karena mendapat jawaban, “Nggih, siap, Pak! Setengah delapan pagi saya sampai di kos-kosan putri njenengan.  Antre periksa pasti lama. Jadi besok saya antar ke rumah sakit, lalu saya tinggal ngantar orang lain ke Salatiga. Siang saya balik ke rumah sakit untuk menjemput njenengan. Kalau selesai periksa lebih awal, njenengan telepon atau nunggu saja. Ngoten nggih?”

Tentu saja aku menjawab, “Nggih, siap!”

*****
SELASA (13/3) pagi-pagi, Pak Manto telepon. “Pak, saya datang jam tujuh nggih, lebih awal, soalnya harus nganter ke Salatiga lebih gasik juga. Mboten napa-napa nggih?”  Kujawab cepat, “Mboten napa-napa, Pak. Siaaap!” Dan segera aku sampaikan pada Entik dan Tia untuk bersiap lebih awal.

Pak Manto sampai di depan kos-kosan tepat pukul tujuh. Bukan main! Kusambut dengan jabat tangan erat. Dia tersenyum ramah, kemudian menurunkan dragbar, dan kubantu mendorong ke depan kamar. Dia agak kaget ketika melihat Tia berdiri dan berjalan mendekat. “Karena gips sebadan hingga paha kanan, anak kami ini gak bisa duduk, Pak. Hanya bisa rebah atau berdiri. Karena itu butuh ambulan,” kataku.

Dengan meja kecil untuk injakan, Tia naik dan rebah di dragbar.  Pak Manto memintaku untuk menahan dragbar saat turun dari teras kos-kosan, begitupun saat hendak masuk ke ambulan. Sebelum berangkat, dia menyorongkan semacam formulir peminjaman. “Njenengan ngisi niki rumiyin,” katanya sambil menyerahkan pulpen juga.

Aku tulislah nama, alamat, waktu, nomor telepon, dan seterusnya hingga sampai pada pilihan jawaban untuk pelayanan: sigap, ramah… ah, satu lagi aku lupa. Tanpa pikir panjang, kucentang pilihan “sigap”.

Sepanjang perjalanan yang tak buru-buru dengan bunyi sirine “alus pisan”, terutama untuk menyibak lalu-lintas di perempatan, setelah bertanya seperlunya perihal peristiwa yang sulung kami alami, Pak Manto bertutur tentang Solo Peduli. Aku yang pernah kerja di koran, tak kuasa menahan “hawa wawancara”. Walhasil, aku bertanya, Pak Manto menjawab sebagaimana laiknya narasumber.

“Hasil wawancara” itu membuatku lebih tahu tentang Solo Peduli yang menyediakan ambulan gratis untuk siapa saja, bukan hanya warga Solo. Jika Tia tinggal di Semarang, misalnya, bisa saja aku meminta bantuan ambulan gratis dari SoloPeduli. “Kami akan jemput di Semarang, kami antar ke rumah sakit di Solo, lalu kami antar pulang ke Semarang,” tutur Pak Manto yang berwilayah kerja Surakarta namun sering antar-jemput “pasien” ke luar kota.

Aku pernah menjadi karyawan dan sering mengeluhkan (pemilik) perusahaan. Tidak demikian halnya dengan Pak Manto. Di sekujur ceritanya tentang Solo Peduli, yang kudengar hanya kebanggaan. Tak sekali pun dia sisipkan “keluhan”, padahal dua puluh empat jam dia harus siaga: siap membantu siapa saja. “Kalau saya sedang tidak bisa, kami akan carikan sopir dan ambulan wilayah lain. Kalau sedang tidak bisa juga, ya kami bantu carikan ambulan di luar Solo Peduli.”

“Nggak capek, Pak, kerja nonstop begitu?” tanyaku, coba memancing “keluhan”.
“Ya capek. Tapi kalau ikhlas, capek itu tidak ada apa-apanya, hilang dengan sendirinya,” jawabnya dengan nada ringan. Bukan main!

Setelah Tia dapat giliran dan selesai periksa sekitar pukul 13.00, aku telepon Pak Manto. “Nggih, Pak, ini saya masih jalan dari Tingkir, Salatiga. Satu jam lagi nggih?” jawabnya. Kami menunggu di lobi gedung pelayanan terpadu sambil makan siang yang kami pesan melalui jasa beli-antar online.

“Pak, tadi Ibuk tanya, kita ngasih uang rokok atau uang jajan untuk Pak Manto nggak…” kata Tia ketika aku mendorong dragbar dari sisi atas kepalanya.
“Menurut kamu?”
“Aku bilang sih nggak usah. Iya kalau diterima, kalau ditolak kan malah nggak enak.”
“Jangan menggoda orang lurus,” kataku pada Entik, kemudian.

Sekitar pukul dua, Pak Manto datang menjemput dan mengantar kami kembali ke kos-kosan. Kali ini dia mundurkan ambulan, naik teras sampai ke depan kamar. Sigap dia keluarkan dragbar, aku mengambil meja kecil untuk pijakan.

Begitu Tia sudah turun, Pak Manto memasukkan dragbar ke dalam ambulan dengan gerakan seperti buru-buru. Pun saat pamitan. Bahasa tubuh yang kubaca sebagai tak memberikan waktu bagi kami untuk “menggoda”. Bersalaman dan saling mengucapkan terimakasih tampak sudah cukup baginya. Bukan main!

*****
SEKITAR satu bulan kemudian, tepatnya hari Selasa 10 April 2018, aku telepon lagi Pak Manto untuk keperluan yang sama. Tetap ramah saat menerima meski jawaban berbeda. “Wah, besok pagi saya ke Sragen. Coba telepon Pak Gik, nanti saya kasih nomor hapenya. Rumahnya dekat dengan kos-kosan putri njenengan, ambulannya juga di situ,” katanya. “Semoga bisa.”

Segera kulaksanakan saran itu. “Oh, nggih, Pak, bisa. Nggih, jam delapan. Rumah saya dekat sini kok. Njenengan dapat nomor hape saya dari siapa?”

“Dari Pak Manto. Tapi ternyata sudah punya, dulu dikasih teman anak saya.”

Rabu (13/4) pagi, sama dengan Pak Manto, Pak Gik datang tepat waktu. Begitu turun dari mobil dan kusambut dengan jabat tangan, dia langsung berjalan ke teras kos-kosan melewati Tia yang berdiri siap berangkat, dan melongok kamar. “Lho, yang sakit mana?” tanya Pak Gik.

Aku, Entik, dan Tia tertawa.

“Ini lho, Pak, anaknya sudah berdiri di sini…” jawabku.

Dia berbalik dan memandang Tia dengan heran. Dan aku pun menjelaskan seperti kepada Pak Manto.

“Masya Allah, mboten ketingal  sakit, ternyata…”

Dengan proses dan prosedur yang sama, kami berangkat ke Rumah Sakit Ortopedi Dr. Soeharso. Saat mengisi formulir permintaan bantuan, aku tak lagi memilih satu di antara tiga pilihan kesan atas pelayanan. Kucentang semua.

Dalam hal berbagi cerita, Pak Gik lebih ramai ketimbang Pak Manto namun nada dasarnya sama: penuh kebanggaan pada lembaga. “Saya selalu ngajak ngobrol begini, biar Bapak nggak sedih karena anak sakit,” katanya.

Mengalirlah banyak cerita, termasuk tentang anak, pekerjaan yang dulu-dulu, hingga menjadi sopir ambulan gratis Solo Peduli. “Mengantar jemput orang sakit membuat saya menyadari, sehat itu benar-benar mahal. Karena bekerja sebagai sopir ambulan, saya jadi selalu ingat untuk bersyukur. Bayangkan, sudah sehat, masih juga bisa membantu orang yang sedang sakit, sedang susah…” tutur Pak Gik yang berwilayah kerja Karanganyar.

Dia melanjutkan, “Kalau ada orang seperti njenengan telepon, pertama-tama saya bersyukur pada Tuhan, kemudian juga berterimakasih pada njenengan  karena menjadi sebab saya punya kesempatan membantu. Kalau memang tidak ada alangan apa pun, saya tidak akan menolak. Hidup di sini hanya sementara, harus manfaat sebisa-bisanya, syukur-syukur bagi banyak orang untuk bekal hidup selamanya di sana.”

Aku diam, mendengarkan. Dan takjub! Biasanya, memang sudah tugasnya pun orang akan tetap mengeluh ketika harus melaksanakan. Dari karena malas sampai karena merasa terganggu. Sedangkan ini, tidak hanya tak malas, tidak hanya tak terganggu, tapi juga bersyukur, bahkan berterimakasih pada orang yang meminta bantuan seperti kami ini. Bukan main!

Dari Pak Manto dan Pak Gik, otomatis juga Solo Peduli, kami tak sekadar mendapat bantuan berupa ambulan gratis (tis) tetapi juga asupan rohani bergizi tinggi: bekerja dan membantu orang lain dengan kesungguhan hati, bukan semata untuk hari ini melainkan justru untuk hari nanti…

Senin, 09 April 2018

Yang Sungguh-sungguh "Edan"

KEPADA Mbak Hum, sejawat di Harian Suara Merdeka dulu kala, Minggu (4/3) pagi aku berkabar sekaligus bertanya tentang  dokter ahli tulang di Semarang karena awalnya kami berencana membawa Tia pulang. Kenapa kepada Mbak Hum?

Pertama, meski jarang bertemu, kami tidak pernah benar-benar lepas kontak. Kami begitu akrab sehingga atmosfer persahabatan berubah menjadi persaudaraan. Kedua, Mbak Hum istri (almarhum) dr Taufiq Adisusilo dan anak-anaknya pun dokter.  Tentu tahu atau minimal cepat mendapatkan informasi pasti tentang hal-hal yang berkait dengan “dunia kesehatan”. Tak sekali dua, ini keterlaluanku, aku minta “resep” obat saat sakit.

Ketika rencana berubah, yaitu tinggal di Solo saja dulu, Senin (5/3) pagi aku berkabar kembali via WA. Mbak Hum maklum dan bertanya soal ruang opname. Aku menjawab: Tapi angil juga cari kos2an. Ruang Ceplok Kembang. Satu jam lebih kemudian, giliran Mbak Hum berkabar:  Dik..aq lagi siap2 berusaha mangkat Solo. Wis nglancangi nembungke kamar nggon adikku, ana Jajar. Ora adoh saka Pabelan. Kali tekan kono sore/bengi. Yen batal takngabari.

Itu! Justru nglancangi itu yang membuatku bisa nyicil ayem. Kalaupun memang tak dapat kos-kosan, kamar di rumah adik Mbak Hum bisa untuk jujugan. Saat aku sampaikan perlu kamar ber-AC, Mbak Hum cepat menjawab: cedhak omah adikku ana homestay, Jln Duku. Bisa diinfo, dipilih.

Dan ketika tahu Tia bakal pulang sore itu, Mbak Hum bertanya: Dik Bud karo sapa  wae?  Aku jawab: kami bertiga, Mbak. Pesan berikutnya: Ok. aq wis liwat Ortopedi. Ning nyang mbak yu sik, trus rono ya. Mbak Hum yang asli Solo itu naik angkutan umum. Mestinya, bisa langsung turun di depan rumah sakit. Aku nyicil ayem lagi karena membaca tanda nyang mbak yu sik itu agar bisa datang dengan mobil.

*****

BACAAN yang tak meleset. Sore itu Mbak Hum datang bersama Bude Sri, kakaknya yang tentu lebih lansia namun sama-sama suka bercanda, serta cucu keponakan yang santun dan jadi sopir dadakan, Nawan. Setelah ngobrol sebentar, kami bergerak mencari kos-kosan juga. Berdasar informasi dari seorang perawat, kami ke kampung dekat rumah sakit. “Banyak rumah singgah di situ,” katanya.

Tiga rumah yang kami kunjungi penuh, tak ada kamar kosong. Satu ada tapi di atas, lantai dua, tidak mungkin bagi Tia. “Wis, nyang omahe adikku ya Dik, didelok sik kamare,” putus Mbak Hum. Kami pun ke sana. Di sepanjang perjalanan, obrolan sampai juga ke soal kebutuhan ambulan dan tempat tidur tinggi seperti di rumah sakit. “Eyang dulu pernah punya tempat tidur seperti itu, kayaknya sekarang di gudang,” kata Nawan.

Tanpa babibu lagi, Mbak Hum menelepon keponakannya, Om Joko, ya bapak si Nawan. Dua kebutuhan dia sampaikan. “Nggih, saya usahakan, Bude, nanti saya hubungi,” kata Om Joko.

Kami tiba di Jajar menjelang magrib. Sembari minum teh dan makan biskuit, aku dan Entik menimbang-nimbang bagaimana enaknya, terutama bagi Tia yang tak hanya butuh kamar tapi juga teman. Rumah itu memang tak jauh dari rumah sakit…”Tapi jauh dari kos-kosan teman-teman Tia. Kasihan mereka kalau riwa-riwi jauh ke sini,” kata Entik.

Bersamaan dengan itu, datang info baru nomor kontak kos-kosan dari Erina. Saat kontak nyambung, barulah jelas, tak bisa kalau hanya tiga bulan. Minimal kos enam bulan. Erina dan kawan-kawan bergerak lagi meski ada juga alternatif lain: tinggal sementara di rumah Ima.

Usai magriban, kami kembali ke rumah sakit untuk menyelesaikan urusan administrasi. Mbak Hum agak “memaksa” hendak nraktir makan malam. Aku menolak karena mau memastikan dulu Tia harus pulang ke mana: ke rumah adik Mbak Hum, rumah Ima, kos-kosan baru, atau nginap lagi semalam di rumah sakit. “Nanti takabari, Mbak…”

Sekitar pukul delapan malam, sekelar bayar dan dapat surat keterangan boleh pulang, Muna mengabarkan dapat kos-kosan di daerah Gulon, Jebres. “Ibuke kos welcome!” katanya. Maksud dia, paham dan mau menerima Tia yang sedang sakit untuk kos selama perawatan, sekitar tiga bulan.

Segera kuberitahu Mbak Hum dan jawabnya melegakan:  Oke. Jadi butuh tempat utk tidur to? Ini ambulan sdh bersama saya. Sekitar pukul sembilan, dia datang hanya bersama Bude Sri. “Nawan ngeterke bapakne njupuk dan terus nganter tempat tidur dulu ke Gulon, baru ke sini…” katanya.

Kami pun menunggu sambil ringkes-ringkes bersama beberapa teman Tia, ngobrol tentang apa saja, dan selalu berseling canda tawa. Hampir pukul sebelas malam, aku terima pesan dari Nawan: Sudah sampai, di lorong tempat parkir. Aku bergegas, ketemu dia dan ayahnya di depan tempat perawat, sudah ndorong dragbar. “Daripada pasiennya yang keluar,” kata Om Joko.

*****

AKU dan Entik mendekati seorang perawat yang sedang jaga. “Mbak, anak kami mau pulang, bisa bantu memindahkan dari ranjang ke dragbar?”

Di luar dugaan, sambil berjalan menyertai kami ke kamar, dia berkata dengan suara tinggi, “Sudah latihan mobilisasi belum tadi? Kalau belum, saya gak akan mengizinkan pulang.”

“Latihan mobilisasi gimana? Ini sudah dapat izin pulang dari sore tadi,” kata Entik.

“Ya latihan duduk, turun, jalan…”

“Latihan turun dan jalan, tadi pagi sudah.”

“Sudah bener? Kalau belum bisa, saya gak mengizinkan pulang.”

Aku yang berjalan di belakang mbatin, cah ki karepe piye to? Dokter sudah mengizinkan, kok perawat nyap-nyap seperti punya kompetensi dan otoritas lebih. Aku tidak dengar Entik menjawab apalagi. Yang kudengar kemudian saat masuk kamar, suara perawat itu lagi, “Wah, ini dragbar ambulan terlalu tinggi, tidak sama dengan tinggi kasur, susah memindahkan mbaknya.”

Om Joko bahkan tahu, selain tinggi, penyangga dragbar itu tak berfungsi sempurna. Dia usul dragbar direndahkan dengan menahannya ramai-ramai. Perawat menggeleng. “Nggak bisa. Terlalu berisiko. Saya nggak berani.”

“Coba kasur itu dinaikkan paling tinggi seberapa,” kataku.

Masih dengan suara kencang, perawat itu menjawab, “Nggak bisa, Pak. Dragbar-nya yang memang terlalu tinggi.”

Tengah malam, suara tinggi, padahal di ruang itu juga ada pasien lain yang sedang istirahat. Aku tak kuat lagi menahan. Dengan suara penuh tekanan aku katakan, “Mbak, naikkan kasur itu dan turunkan suara sampean!”

Barulah dia melunak. Bersama-sama kami mencari cara teraman dan termudah memindahkan Tia dari ranjang ke dragbar. Sebenarnya tinggal mengangkat Tia berikut seprai tapi karena perbedaan tinggi yang mencolok, susah.  “Minta bantuan satpam saja, Mbak, kan kuat-kuat,” usul Om Joko.

Perawat itu menggeleng. “Ini bukan bagian satpam, saya nggak berani. Kalau ada apa-apa, bisa salah. Saya panggil teman dulu.” Saat balik, dia sendiri.  “Nggak ada perawat yang lain. Saya sudah minta dua satpam ke sini untuk membantu…”

Om Joko melirikku. Fyuuuuhhh!!! Kami angkat seprai berikut Tia yang bertambah berat enam kilo karena gips itu. Dia meringis, pasti karena nyeri di punggung. Aku lebih meringis karena dia meringis. “Pelan-pelan ya, Mas…” kataku pada satpam yang turut mendorong dragbar keluar menuju parkiran. Saat jalan, keduanya rerasan, “Dragbar-nya nggak standar ini…”

“Kalau mau standar, ya mestinya rumah sakit ini yang nyediain,” bisik Nawan.

Aku tertawa saja.

O ya, selain Om Joko yang nyetir ambulan dan Nawan yang kembali menjadi “driver” bagi eyang-eyangnya, ada dua lagi cucu keponakan Mbak Hum yang menyertai kami dengan naik motor. Siap membantu di kos-kosan. Ya Allah! Ini keluarga besar, orang baik semua.

*****

DARI Pabelan ke Jebres, apalagi untuk ukuran membawa anak yang sedang cedera pada tulang belakang, ternyata jauh juga. Sepanjang perjalanan, aku turut menahan badanku sendiri, lebih-lebih ketika ambulan melewati jeglongan atau polisi tidur. Kurasa, Entik pun begitu.

Setiba di depan Kyza Kost, kami kaget bersama. Banyak sekali yang menunggu, tak cewek tak cowok, semua teman Tia dari Massenca (Mahasiswa Seni Cinta Alam). Sebagian di antara mereka sigap meminggirkan motor karena Om Joko hendak menaikkan ambulan hingga ke depan kamar. Bayangkan, lewat tengah malam, ambulan masuk kos-kosan.

Ketika hendak memindahkan Tia ke tempat tidur, oho, riuh-rendahlah suara. Rasa-rasanya semua ingin membantu tapi tempat terbatas. Kupanggil beberapa cowok untuk mengangkat seprai, sekali lagi bersama Tia: “Pelan-pelan ya, ati-ati, pelan-pelan ya. Satu, dua, tiga!”

Begitu terpindahkan, legalah sudah. Semua tertawa. Aku juga meski dengan perasaan haru-biru. ”Tuhan, berkahi pertemanan mereka ini,” seruku dalam hati. Seorang cowok memandang dengan sorot mata iba tapi Tia menyergah, “Kowe ngapa, Mas, kok sedih? Biasa waelaaah…”

“Anakmu edan-og, Dik… Kaya kono!” kata Mbak Hum.

Padahal, yang sungguh-sungguh “edan” ya Mbak Hum. Besuk tak hanya bersama saudara tetapi juga bersama jalan keluar bagi persoalan yang kami hadapi hari itu. Lewat facebook, lima hari kemudian, Mbak Hum bercerita soal “menunda-nunda” silaturahim ke rumah saudara-saudaranya di Solo sampai tergerak-rak untuk berangkat Senin itu, pas dengan hari Tia boleh pulang. Dan, ya begitulah, “semua berjalan sebagaimana mestinya”.

Senin, 02 April 2018

Pulang, Iya. Tapi ke Mana?

JUMAT malam Pakde Ari dan Bude Yul dari Pekalongan datang berikut anak-menantu-cucu. Besuk tak lama karena memang sudah cukup larut. Saat pamit balik ke Semarang, aku turut. Bagaimanapun, di rumah ada Biru dan Gigih yang mesti kami perhatikan juga, meski via WA keduanya berkabar baik-baik saja.

Sampai rumah dini hari. Usai subuh, tak tertahankan untuk menebus kantuk dan capek,  tidur hingga bablas melewati jam sekolah. Biru dan Gigih tak terbangunkan. Bolos. Pukul 09.55, lewat grup WA kami serumah, “Cucu Fatimah”, Tia menyapa adik-adiknya:  



“Mbak Tia pulang kapan to, Pak?” tanya Biru.
“Kalau nggak Senin ya Selasa…”
Emange pasang AC bisa cepat?” tanya Gigih.
“Bisa, kalau ada AC-ne.”

Dia menjep. Tahu ke mana arah jawaban itu. Kami kembali bersih-bersih dengan porsi masing-masing, lanjut sampai Sabtu sore, malam, bahkan sampai Minggu pagi sebelum aku balik lagi ke Solo.

*****

PAS duhur aku tiba di rumah sakit. Saat makan siang di kantin, Entik menyampaikan, “Kata Dokter, Tia boleh pulang besok…”

“Alhamdulillah...”

“Tapi pulang ke Semarang rasanya nggak mungkin, Pak. Karena gips sampai paha kanan itu, Tia kan nggak bisa duduk. Kalaupun baring naik ambulan, juga terlalu jauh, apa nggak bahaya untuk tulang belakangnya. Belum lagi, ada kemungkinan kontrol ke sini minggu depan. Bolak-balik kan berat di perjalanan.”

Aku manggut-manggut sambil menimbang-nimbang dalam pikiran.

“Kamar di rumah juga belum siap untuk Tia kan? Minimal, seminggu ini di Solo dulu, nanti kita lihat perkembangan, setelah kontrol.”

“Lalu?”

“Karena kamar kos yang sekarang di atas, ya harus cari kos lain. Muna, Erina, dan Ima lagi bantu cari.”

“Ya sudah, gitu aja.”

Malam, Entik berubah pikiran. Eh, bukan berubah, melainkan bergeser. Dengan pertimbangan agar Tia terlingkungi oleh teman-teman kuliahnya selama pemulihan, dia usul, “Tiga bulan aja sekalian. Di Semarang, teman Tia kan nggak banyak. Bisa-bisa dia kesepian kalau sehari-hari hanya bersama kita, nggak ada teman yang main. Kalau di Solo, kan beda…”

Brilian! Aku langsung setuju tanpa perlu lagi menimbang. Tapi tiba-tiba ingat sesuatu. “Itu berarti Ibuk juga nemenin Tia di Solo selama tiga bulan?”

“Ya iyalah.”
“O-o…”
Dia ketawa. “Mau gimana lagi?”

*****

SENIN 5 Maret pagi, setelah latihan turun-naik tempat tidur dan jalan sekian langkah dengan bimbingan tim fisioterapis, terpastikan sudah sore Tia boleh pulang. “Tinggal nunggu pemberitahuan dari bagian administrasi,” kata seorang perawat.  

Menjelang sore, Tia pengin latihan turun dan jalan. Kubantu dengan sangat hati-hati. Berjalan sampai luar kamar dan balik lagi. Serta-merta saja berkelabat bayangan saat kami mengajarinya berjalan semasa kecil dulu. Haru merambat pelan. Pelan-pelan jauh ke dalam.

Dan baru kali itulah terpikir untuk merekam “adegan”. Entik yang melakukan. Video yang kemudian kubagikan sebagai kabar pertama kepada “khalayak” melalui instagram. Doa dari teman dan saudara kembali berdatangan.

Selepas asar, pemberitahuan dari bagian administrasi tak kunjung datang. Teman-teman Tia yang cari kos-kosan pun belum pula mendapatkan. Saat menunggu begitu, Entik menanyakan hal yang tak kupikirkan sama sekali karena mestinya memang tak perlu kami pikirkan.

“Pulangnya gimana, Pak? Tia kan gak bisa naik mobil biasa.”
“Ya pakai ambulan rumah sakitlah.”
 “Sudah Bapak tanyakan?”
“Belum. Harusnya kan otomatis…”
“Ya harusnya. Tapi coba Bapak tanyakan, siapa tahu malah ternyata.”

Agak-agak malas aku ke tempat para perawat. Pada salah seorang di antara mereka aku menyampaikan kondisi Tia. “Mbak, anak kami kan sudah boleh pulang sore ini. Tinggal nunggu urusan administrasi. Karena digips sebadan plus paha, dia nggak bisa duduk. Rumah sakit menyediakan ambulan untuk mengantar kan?”

“Maaf, Pak, ambulan dan sopir terbatas, tidak bisa mengantar pasien pulang. Biasanya, pasien memang mengusahakan kendaraan sendiri.”

“Ya kalau bisa pakai mobil apa saja sih nggak masalah, Mbak. Ini kan harus pakai ambulan.”

Perawat yang lain, laki-laki, memotong pembicaraan kami. “Kalau mau, saya bisa pesankan ambulan dari luar. Bapak mau pulang ke mana? Surabaya? Bogor?”

“Rumah kami Semarang tapi untuk sementara anak kami akan tinggal di Solo saja, jadi ya pulang ke kos-kosan.”

“Wah, kalau dekat, susah. Nggak bisa. Jauh malah bisa.”

Betul belaka dugaan Entik. Ternyata memang “ternyata”. Kusampaikan keternyataan itu padanya sambil menanyakan hasil hunting kos-kosan. “Teman-teman Tia sudah ke sana kemari tapi belum dapat juga. Ini mereka baru saja ngasih nomor telepon kos-kosan untuk kita hubungi,” katanya dengan sambungan, “Lha ambulane piye?”

Mau tak mau, suka tak suka, kami memang “terjebak” dalam situasi ini: Pulang, iya. Tapi bagaimana  dan ke mana? Meski begitu, meski belum tahu, aku kok merasa “semua akan berjalan sebagaimana mestinya”... 

Kamis, 22 Maret 2018

Kebaikan yang Terus Mengalir

SEJAK Jumat pagi, teman-teman kuliah Tia membesuk silih berganti. Sebagian di antara mereka seperti Erina, Muna, Ima, Bangsa, dan Sofi siap sedia membantu kami, menjadi seksi riwa-riwi. Bahkan Muna menjadi “operator” AC dengan remote hape karena dua kali aku lapor kepada perawat, AC tetap saja mati. Saat dia pamit balik ke kos-kosan, Tia bilang, “Hapemu tinggal kene wae!”

Setiap kali datang, tak laki tak perempuan, oleh-oleh mereka selalu sama: canda-tawa. Dan Tia, seolah tidak sedang sakit, melayani candaan dengan candaan, menyambut tawa dengan tawa. Usai digips sebadan, kurasa dia harus istirahat, “meluruskan” tulang belakang dengan tidur, misalnya. Tapi tak lama setelah balik dari poliklinik, jam besuk sore dimulai.

Yang besuk kok ya teman-teman Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga, tempat Tia “menghabiskan masa SMA”. Tak pelak, sejak datang hingga pamit pulang, mereka nyaris tak pernah berhenti haha-hihi. Karena khawatir kebanyakan tertawa, apalagi sampai terpingkal-pingkal, bakal mengganggu bagian yang cedera, aku pun mengingatkan, “Hei, hei… jangan nemen-nemen le guyon.”

Mereka kurangi memang tetapi hanya sebentar. Sedikit demi sedikit, canda dan tawa itu pecah lagi. Ya sudahlah, semoga yang terjadi justru sebaliknya, terbahak-bahak memperkuat saraf dan otot pada tulang belakang.

Pada saat seperti itu, bolehlah dibilang aku nganggur.  Dan ketika Entik bisa tidur di ranjang kamar-sebelah yang kosong, aku “bingung”. Jalan-jalan ke mana, duduk diam saja kok kelihatan gimana. Akhirnya, ya, mulailah aku kirim kabar soal Tia via WA pada sanak-saudara, pada bude dan pakde, pada om dan tante: dari barat sampai ke timur.

Teman? Tidak. Bahkan Handry TM, salah satu sahabat, sama sekali tak kukabari. Jumat dia sedang bertandang ke Rumah Budaya Tembi untuk peluncuran buku puisinya, Eventide. Sungguh aku tak ingin mengusik kegembiraan yang sedang dia nikmati bersama anak-istri. Via WA, malam itu aku menyapa:

+ Sukses untuk acara di Jogja ya, Kak…
= Aku agak tepar di akhir acara
+ Ngaso, Kak… Lekas pulih
= Tengkyu Kak. Besok pulang naik joglosemar, malam ini merasakan nginep neng Tembi, wah natural banget.
+ Penginku turut hadir tapi tak diperjalankan…

Satu-dua teman bertanya dengan nada ragu, via WA juga, setelah membaca story Tia di instagram. Kenapa ragu? Karena Tia tidak mengabarkan musibah yang menimpanya dengan nada berat. Sebaliknya, ringan-ringan saja. Saat di IGD malam itu, misalnya, dia pajang foto Biru dengan keterangan: si Ganteng ini yang akan jadi perawatku selama tiga bulan. Bahkan beberapa sahabat yang dia kasih tahu langsung menangis dan, ajaibnya, dialah yang menghibur mereka!

Dari sanak-kerabat, wabilkhusus K.H. Ahmad Mustofa Bisri atawa Gus Mus, tak ada yang kuminta selain doa, doa, dan doa untuk proses kelancaran tindakan dan kesembuhan Tia. Aku merasa, sangat merasa, lemah selemah-lemahnya di hadapan rahasia Tuhan atas peristiwa. Aku percaya, sungguh-sungguh percaya, obat dan dokter hanyalah sistem upaya yang berada jauh di bawah sistem penyembuhan-Nya.

Melalui Messenger, Yaik Mus menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Inna liLlah. Khair insyaAllah. Kami ikut mengamini doa panjenengan. Semoga ananda Mutiara Relung Sukma segera dianugerahi kesembuhan dengan sempurna. Al-Fatihah.”

Pada titik paling tidak berdaya, doa benar-benar menjadi penguat. Lahir dan batin. Tercatatlah tercatat sebagai kebaikan yang terus mengalir…. 


Jumat, 16 Maret 2018

Sibuk Menyemai Kesabaran

SEORANG perawat menyambut dan mengantar kami ke kamar 12 bangsal Ceplok Kembang, menjelang subuh, Jumat 3 Maret 2018. Entik dan Tia memilih tempat tidur dekat jendela , jadi berkesan rumah, dan di bawah AC untuk mengantisipasi badan sesudah digips nanti karena pasti sumuk.  

“Tapi ini AC-nya sentral lho, tidak bisa dikecilkan dari sini…” kata perawat itu.
“Iya, Mbak, gak papa,” sahut Tia.
“Sekarang silakan makan, seperti sahur, sampai kenyang. Nanti pukul enam berhenti, puasa.”
“Lho, hanya digips, bukan mau operasi, kok puasa?” tanyaku.
“Ya, untuk jaga-jaga, siapa tahu…”

Tia bisa tidur. Alhamdulillah. Dia terbangun ketika pagi-pagiseorang dokter muda datang, menyibak tirai, dan berujar, “Bagaimanapun Bapak-Ibuk patut bersyukur, yang kena bukan tulang sumsum, sehingga tangan dan kaki Mbak Mutiara masih bisa merespons dengan baik. Ini mau digips ya? Silakan sarapan dulu, nanti puasa mulai jam tujuh.”

“Kok puasa?” tanyaku lagi.
“Iya, Pak, untuk antisipasi. Kalau bisa digips di poli sambil berdiri, ya bagus, tidak perlu dibius. Puasa batal. Tapi kalau tak tahan nyeri di punggung, ya harus dibius dan digips di ruang operasi. “

Kami pun menunggu undangan untuk gips itu. Datang lagi dokter yang juga muda, berdua, tanya-tanya dan berkata dengan serbacepat, kemudian berlalu. Tak ada info baru.  Sekitar pukul  sepuluh, datang dokter yang semalam menjelaskan pada kami hasil ronsen di IGD itu.  

“Pak, menurut  Dokter Andi yang bertanggung jawab atas tindakan pada pasien, dengan mempertimbangkan kondisi tulang belakang yang cedera, kami sarankan operasi untuk anak Bapak, bukan body jacket atau gips. Jika bersedia, kami sudah bisa jadwalkan, operasi hari Senin,” katanya.

Senin? Lha Sabtu-Minggu ngapain? Terus terang, aku bingung. Semalam kami dapat sodoran pilihan, kemudian memutuskan, kini harus menimbang ulang.

“Kalau gips, bisa hari ini kan?”
“Ya kita lihat nanti. Karena itu, segera Bapak putuskan. Kalau lambat, ya harus antre lagi, jadwal ulang. Gitu nggih?” katanya, kemudian berbalik meninggalkan kami.

Kutatap Tia. “Piye, Nduk?”
Dia angkat bahu. Entik juga nampak bimbang: sudah memilih gips tapi kok dokter lebih menyarankan operasi.

*****

AKU beranjak menuju tempat para perawat. Pada salah seorang yang tampak senior di antara mereka, aku bertanya soal biaya sebab saat di IGD, info biaya operasi yang kami terima untuk kelas tiga.

“Tentu saja lebih mahal, Pak. Pakai BPJS atau umum?”
“Umum….”
“Waduh, bukan dana yang sedikit ini, Pak.”
“Sebenarnya kami sudah memilih gips tapi tadi dokter menyarankan operasi…”

Dia tersenyum ramah dan mengatakan, “Gini aja, Pak. Nanti Bapak bilang pada dokter, sementara pilih gips karena terbentur biaya. Besok atau lusa Bapak urus BPJS, kalau sudah dapat, naaa… mungkin saja ambil tindakan lain.”

Meski tak sependapat, aku tersenyum dan mengucapkan terimakasih, lalu kembali ke kamar. Beberapa saat ngobrol dengan Tia dan Entik, datang lagi dokter, perempuan, dan menyatakan bahwa kami harus bersyukur karena meski yang cedera tulang belakang, secara umum Tia baik-baik saja. Cara bicara dokter yang satu ini jelas dan tegas, tanpa kehilangan kesan ramah.

“Ibuk, Bapak, Mbak…. Ayo tanya apa, mumpung saya masih di sini. Jangan sungkan atau ragu, tanya sebanyak-banyaknya, panjenengan punya hak untuk menerima informasi selengkap mungkin.”

Maka bertanyalah kami soal “masih amankah jika tetap pilih gips”. Dia minta perawat mengambil hasil ronsen. Dia mengamati dan menjelaskan, termasuk kenapa dokter menyarankan operasi. “Meskipun demikian, gips masih aman asal Mbak Mutiara benar-benar mau istirahat sekaligus repot dengan gips di badan selama perawatan, sekitar tiga bulan.”

Mantap sudah. Segera kusampaikan keputusan kami pada perawat untuk dia lanjutkan ke dokter. Lalu, ya kembali menunggu.

“Mestinya hari ini. Kalau nggak, mundur Senin, repot. Sabtu-Minggu kita plonga-plongo di sini.”
“Nunggu dokter yang sedang  weekend…” sambung Tia sambil tertawa.

*****

AGAK lama selepas jumatan, barulah dokter yang menyampaikan saran operasi datang dan mengatakan, “Menurut Dokter Andi, kalau memang tetap gips, tidak hanya sepinggang tapi sampai paha kanan sebagai penyangga, karena ruas yang cedera terletak agak bawah. Itu berarti setelah digips nanti, pasien tak bisa duduk. Kalau iya, kita laksanakan sekarang di poli.”

Aku menoleh ke Tia, kemudian mengangguk. Puasa batal karena “tindakan” tidak di ruang operasi. Tak tahulah kami, bagaimana cara mempertimbangkan tingkat kenyerian sehingga poli menjadi pilihan. Artinya, Tia akan digips tanpa bius. “Sediakan kaos singlet, minta bantuan perawat,” kata dokter itu sebelum berlalu.

Tak lama setelah itu, dua perawat mendorong ranjang. Tia menyibukkan diri dengan hapenya, aku dan Entik menyertai di sisi kanan dan kiri. Kalau ada yang iseng merekam, pasti dapat gambar yang persis adegan dalam film-film itu!

Sesampai di pintu ruang tindakan, bapak-bapak perawat bertanya, “Singletnya mana?” Entik menyerahkan kaos yang dia beli di kantin rumah sakit. “Wah, ini tidak menyerap keringat. Beli lagi. Di minimarket seberang rumah sakit sana ada.”

Aku melongo.

Entik meminta tolong salah satu teman Tia untuk keluar dan beli singlet. Teman lain yang sedang di luar sana juga berusaha mencari kaos yang sama. Perawat itu memberikan selembar catatan (semacam resep) padaku, “Silakan ambil gips ke bagian farmasi.”

“Lho, tadi Erina ke farmasi, katanya mau ambil gips,” kata Entik.

Saat itulah Erina dan Bangsa, dua-duanya sahabat Tia, datang dengan sekotak gips. Perawat ngecek dan mengatakan, “Ini salah ukurannya, terlalu kecil, gak akan cukup nanti. Tadi siapa yang suruh?”

“Tadi dapat resep dari perawat di bangsal sana,” jawab Erina.
“Kembalikan, pakai resep yang ini saja.”

Aku melongo lagi.

Yang beli kaos datang. Setelah bungkus plastiknya dibuka baru ketahuan, bukan singlet. Salah lagi. Untunglah, datang pula Muna, sahabat lekat Tia yang lain, dengan kaos yang memenuhi syarat. Begitu “gips ralatan” tiba, masuklah Tia ke ruang tindakan. Kami semua menunggu di luar. Sekitar setengah jam kemudian, dia keluar dari ruang itu dengan gips sebadan plus paha kanan, langsung “mampir” ke ruang ronsen.

Saat kembali ke kamar, Tia nggrundel, “Aku tahu sekarang. Ternyata bius itu perlu gak cuma biar gak sakit tapi juga biar pasien gak denger obrolan dokter dan perawat…”

“Apa yang mereka obrolkan?” tanyaku.
“Untuk pasien, rak nyenengke tenan!”
“Misalnya?”
“Kok ndadak digips, dioperasi wae kan beres…”

Aku tak bertanya lagi. Sibuk menyemai kesabaran sendiri. 


Jumat, 09 Maret 2018

Jatuh Menjelang Purnama

SEKITAR pukul delapan malam, Kamis 1 Maret 2018, aku menyalakan komputer, membuka photoshop, dan menghitamputihkan foto-foto untuk buku kumpulan kunjungan kerja anggota DPD RI dari Jawa Tengah, Bambang Sadono. Belum banyak, baru beberapa….. hape berbunyi. Telepon dari Tia yang siang tadi pamit balik ke Solo. Kutatap layar hape dengan perasaan makdheg karena biasanya dia hanya berkabar via pesan jika sudah sampai tujuan.

“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam. Pak, hehehe, aku jatuh…”

“Duh, Nduk!” Sontak terbayang jalan raya Semarang-Solo yang penuh bus dan truk itu. “Jatuh di mana? Jatuhnya gimana?”

“Udah sampai Solo. Aku sama temen, mau nonton. Ada mobil berhenti mendadak, mobil di belakangnya nabrak, motor nabrak mobil yang nabrak itu.”
“Kamu yang nyetir?”
“Nggak, aku mbonceng.”
“Luka, Nduk?”
“Luka dikit… tapi tulang belakang kena.”
“MasyaAllah, Nduk!” Yang ini maklhab benar rasanya.
“Teman yang nyetir gimana?”
“Nggak papa, cuma giginya patah. Ni aku di IGD rumah sakit ortopedi, kebetulan tabrakane gak jauh dari sini. Udah dironsen. “
“Hasilnya?”
“Doktere mau ngomong sama Bapak. Nanti kalau dah siap, Bapak taktelpon lagi ya.”
“Ya…”

Aku tercentang di antara kekhawatiran soal cedera tulang belakang dan kelegaan atas kenyataan Tia masih bisa menelepon, bahkan mengabarkan sendiri musibah itu dengan awalan “hehehe”. Dan justru aku menangis karena itu!

Setelah menyampaikan kabar berikut kronologi pada Entik yang sedang melipati pakaian di tempat tidur, aku pamit ke masjid. Aku benar-benar merasa perlu waktu dan tempat khusus  untuk “sujud”.

Tak lama, si Bungsu menyusul ke masjid.

“Ada apa, Gih?”
“Kata Ibuk, Bapak suruh pulang, Mbak Tia telepon.”

Aku bergegas. Begitu kuterima telepon, Tia hanya mengatakan, “Bapak ke sini, sekarang. Doktere mau menjelaskan langsung.”

*****

TAK ada pilihan. Kusuruh pulang Biru yang sedang di rumah teman. Berempat kami ke RS Ortopedi Dr. Soeharso Surakarta, diantar oleh Mas Didin, tetangga sebelah rumah yang kok ya ndilalah kersaning Allah baru saja beli mobil. Gres!

Sepanjang perjalanan, kami tak banyak cakap. Entik pilih “tidur”, Gigih mapan di jok belakang. Biru duduk di depan, sesekali ngobrol dengan Mas Didin. Aku, selain “sibuk dengan diri sendiri”,  berkabar pada satu-dua kerabat dan sahabat. Benar-benar hanya satu atau dua. Ada perasaan sangat kuat untuk tak mengabarkan musibah ini ke banyak saudara dan teman, apalagi via status facebook, whatsApp, atau instagram.

Tiba di rumah sakit sekitar pukul setengah dua belas malam. Terang bulan menjelang purnama. Teman-teman kuliah Tia menyambut dengan salim takzim. Bersegera kami masuk, menemui Tia yang terbaring di salah satu bilik IGD. Senyumnya bercampur dengan seringai karena nyeri di punggung.

Setelah kembali mendengarkan cerita tentang tabrakan itu, lebih lengkap, termasuk dengan siapa dia berboncengan, aku dan Entik menemui dokter jaga yang segera saja memajang hasil ronsen dan menyalakan lampu hingga foto tulang-tulang putri kami menampak. Dari samping, ruas tulang yang cedera sudah dia “pertegas” dengan spidol merah. Menurut susunan:  1, 2, 3.  

“Ruas kedua inilah yang kena saat putri Bapak jatuh. Selain bentuk berubah karena tertekan, bisa Bapak lihat, juga sedikit bergeser,” katanya. Dia menjelaskan banyak hal lain hingga pada pilihan tindakan: operasi (menyusupkan pen di tulang belakang), pemasangan body jacket atau gips sebadan (dari atas dada sampai pinggang), dan korset yang bisa lepas-pasang. “Kalau melihat posisi ruas yang cedera ini, pilihan ketiga tidak kami sarankan karena berkemungkinan melakukan gerakan yang membahayakan tulang belakang,” tambahnya.

Saat kami tanyakan kelebihan dan kekurangan dua pilihan itu, dia menjelaskan bahwa operasi lebih afdol karena penjagaan ruas tulang agar tidak bergerak lebih pasti. Pemulihan lebih cepat. Sedangkan jika memakai gips sebadan tentu lebih merepotkan,  “tak bisa ngapa-ngapain” (termasuk mandi) selama tiga bulan.

“Dari segi biaya, berapa bedanya?”

“Wah, soal biaya saya tidak tahu, bukan wewenang saya. Bapak bisa tanyakan pada petugas itu,” jawabnya sambil menunjuk seseorang yang sedang duduk di dekat meja pelayanan. “Bapak punya BPJS?”

Aku menggeleng. “Tidak.”

“Wah, padahal kasus begini ini bisa dikaver penuh oleh BPJS, Pak… bahkan operasi sekalipun. Sekarang silakan Bapak pertimbangkan ya.”

*****

DARI dokter, aku menemui petugas pendaftaran pasien dan meminta keterangan soal biaya untuk dua pilihan tindakan itu. Dia serta-merta menjelaskan biaya yang harus kami keluarkan di kelas tiga. Biaya operasi sepuluh kali lipat biaya pemasangan gips.

Sejak dokter menjelaskan sekaligus menyarankan, sebenarnyalah operasi tak menjadi pilihan bagiku. Bukan sekadar perkara biaya melainkan soal manalah tega.  Apalagi, alhamdulillah, Tia “baik-baik saja”. Komunikasi lancar, tak lupa bercanda dan tertawa, gerak anggota badan yang lain pun tak terganggu, tetap sebagaimana biasa.

Setelah berembuk dengan menimbang ini dan itu, kami putuskan gips saja. “Tiga bulan badan jadi lebih berat lho, Nduk...” kataku.

Dia tersenyum, “Punggung sakit begini, aku toh gak akan ke mana-mana.”

Kembali aku menemui petugas dan menyampaikan keputusan kami. “Anak saya bisa dipindah ke kamar sekarang kan?”

“Sebentar, saya tanyakan dulu…” Setelah menelepon perawat entah di mana, dia mengatakan, “Kamar kelas tiga penuh, Pak.”

Aku menoleh dan menatap Entik. Kami bersepakat dengan saling mengangguk. “Kalau kelas dua, biaya jadi berapa?” Petugas itu membuka-buka catatan, kemudian menyebut angka kenaikan. “Ya sudah, kelas dua,” putusku. Dia menelepon perawat lagi, lalu mengatakan padaku, “Kamar kelas dua ada, Pak.”

“Anak saya bisa pindah ke kamar sekarang juga?”

“Belum, Pak… ini proses administrasi dulu. Ambulans juga belum siap. Nanti subuh baru bisa dipindah ke kamar.”

Weeee… lha, padahal saat itu baru hampir pukul dua! Buru-buru kutekan kekhawatiran, kutekan ketidaksabaran. Minimal, ya, sangat minimal kulihat beberapa perawat mulai bergerak menangani Tia, termasuk memasang infus dan menyuntikkan obat pereda nyeri ke dalamnya --yang entah kenapa tidak sedari kali pertama Tia masuk IGD. Saat proses foto ronsen itu, cerita Tia kemudian, dia sangat kesakitan. “Rasanyaaaaaaa hooaaaahhh!!!”

Ya Allah Ya ‘Aziz… dalam kesakitan yang “hoaaahhh” begitu, dia meneleponku, mengabarkan musibah itu dengan awalan “hehehe”. Pada Tia, ya pada si Sulung yang pernah menjadi ketua mapala di kampus ISI Solo ini, kami wabilkhusus aku mesti belajar tentang rasa sakit dan kekuatan menahannya…