Sampai rumah dini hari. Usai subuh, tak tertahankan untuk
menebus kantuk dan capek, tidur hingga bablas
melewati jam sekolah. Biru dan Gigih tak terbangunkan. Bolos. Pukul 09.55,
lewat grup WA kami serumah, “Cucu Fatimah”, Tia menyapa adik-adiknya:
“Mbak Tia pulang kapan to, Pak?” tanya Biru.
“Kalau nggak Senin ya Selasa…”
“Kalau nggak Senin ya Selasa…”
“Emange pasang
AC bisa cepat?” tanya Gigih.
“Bisa, kalau ada AC-ne.”
“Bisa, kalau ada AC-ne.”
Dia menjep.
Tahu ke mana arah jawaban itu. Kami kembali bersih-bersih dengan porsi
masing-masing, lanjut sampai Sabtu sore, malam, bahkan sampai Minggu pagi sebelum
aku balik lagi ke Solo.
*****
PAS duhur aku tiba di rumah sakit. Saat makan siang di
kantin, Entik menyampaikan, “Kata Dokter, Tia boleh pulang besok…”
“Alhamdulillah...”
“Tapi pulang ke Semarang rasanya nggak mungkin, Pak. Karena
gips sampai paha kanan itu, Tia kan nggak bisa duduk. Kalaupun baring naik
ambulan, juga terlalu jauh, apa nggak bahaya untuk tulang belakangnya. Belum
lagi, ada kemungkinan kontrol ke sini minggu depan. Bolak-balik kan berat di
perjalanan.”
Aku manggut-manggut sambil menimbang-nimbang dalam
pikiran.
“Kamar di rumah juga belum siap untuk Tia kan? Minimal,
seminggu ini di Solo dulu, nanti kita lihat perkembangan, setelah kontrol.”
“Lalu?”
“Karena kamar kos yang sekarang di atas, ya harus cari
kos lain. Muna, Erina, dan Ima lagi bantu cari.”
“Ya sudah, gitu aja.”
Malam, Entik berubah pikiran. Eh, bukan berubah,
melainkan bergeser. Dengan pertimbangan agar Tia terlingkungi oleh teman-teman
kuliahnya selama pemulihan, dia usul, “Tiga bulan aja sekalian. Di Semarang,
teman Tia kan nggak banyak. Bisa-bisa dia kesepian kalau sehari-hari hanya
bersama kita, nggak ada teman yang main. Kalau di Solo, kan beda…”
Brilian! Aku langsung setuju tanpa perlu lagi menimbang.
Tapi tiba-tiba ingat sesuatu. “Itu berarti Ibuk juga nemenin Tia di Solo selama
tiga bulan?”
“Ya iyalah.”
“O-o…”
Dia ketawa. “Mau gimana lagi?”
*****
SENIN 5 Maret pagi, setelah latihan turun-naik tempat
tidur dan jalan sekian langkah dengan bimbingan tim fisioterapis, terpastikan
sudah sore Tia boleh pulang. “Tinggal nunggu pemberitahuan dari bagian administrasi,”
kata seorang perawat.
Menjelang sore, Tia pengin latihan turun dan jalan.
Kubantu dengan sangat hati-hati. Berjalan sampai luar kamar dan balik lagi. Serta-merta
saja berkelabat bayangan saat kami mengajarinya berjalan semasa kecil dulu. Haru
merambat pelan. Pelan-pelan jauh ke dalam.
Dan baru kali itulah terpikir untuk merekam “adegan”. Entik
yang melakukan. Video yang kemudian kubagikan sebagai kabar pertama kepada “khalayak”
melalui instagram. Doa dari teman dan saudara kembali berdatangan.
Selepas asar, pemberitahuan dari bagian administrasi tak
kunjung datang. Teman-teman Tia yang cari kos-kosan pun belum pula
mendapatkan. Saat menunggu begitu, Entik
menanyakan hal yang tak kupikirkan sama sekali karena mestinya memang tak perlu
kami pikirkan.
“Pulangnya gimana, Pak? Tia kan gak bisa naik mobil biasa.”
“Ya pakai ambulan rumah sakitlah.”
“Sudah Bapak
tanyakan?”
“Belum. Harusnya kan otomatis…”
“Ya harusnya. Tapi coba Bapak tanyakan, siapa tahu malah
ternyata.”
Agak-agak malas aku ke tempat para perawat. Pada salah seorang
di antara mereka aku menyampaikan kondisi Tia. “Mbak, anak kami kan sudah boleh
pulang sore ini. Tinggal nunggu urusan administrasi. Karena digips sebadan plus
paha, dia nggak bisa duduk. Rumah sakit menyediakan ambulan untuk mengantar
kan?”
“Maaf, Pak, ambulan dan sopir terbatas, tidak bisa mengantar
pasien pulang. Biasanya, pasien memang mengusahakan kendaraan sendiri.”
“Ya kalau bisa pakai mobil apa saja sih nggak masalah, Mbak. Ini kan harus pakai ambulan.”
“Ya kalau bisa pakai mobil apa saja sih nggak masalah, Mbak. Ini kan harus pakai ambulan.”
Perawat yang lain, laki-laki, memotong pembicaraan kami. “Kalau
mau, saya bisa pesankan ambulan dari luar. Bapak mau pulang ke mana? Surabaya?
Bogor?”
“Rumah kami Semarang tapi untuk sementara anak kami akan
tinggal di Solo saja, jadi ya pulang ke kos-kosan.”
“Wah, kalau dekat, susah. Nggak bisa. Jauh malah bisa.”
Betul belaka dugaan Entik. Ternyata memang “ternyata”. Kusampaikan
keternyataan itu padanya sambil menanyakan hasil hunting kos-kosan. “Teman-teman Tia sudah ke sana kemari tapi belum
dapat juga. Ini mereka baru saja ngasih nomor telepon kos-kosan untuk kita hubungi,”
katanya dengan sambungan, “Lha ambulane
piye?”
Mau tak mau, suka tak suka, kami memang “terjebak” dalam situasi ini: Pulang, iya. Tapi bagaimana dan ke mana? Meski begitu, meski belum tahu, aku kok merasa “semua akan berjalan sebagaimana mestinya”...
Mau tak mau, suka tak suka, kami memang “terjebak” dalam situasi ini: Pulang, iya. Tapi bagaimana dan ke mana? Meski begitu, meski belum tahu, aku kok merasa “semua akan berjalan sebagaimana mestinya”...

Emperor Casino: Online Casino | 200% Welcome Bonus | Play for Fun
BalasHapusWelcome to Emperor Casino, an online kadangpintar casino offering players a chance to experience the best casino games. 인카지노 Play the best slots and table 제왕 카지노 games at